Cewek cakep dan Cewek cakep

Cewek cakep harus direbut! cewek cakep harus direbut, cah ayu harus direbut! ayo bung rebut kembali! ayo kejar kembali! ayo kejar! ayo kejar! ubeeeeeer terussssssss

Begitulah kata teman saya! teman saya bilang: ga’ ada cewek cakep yang ga’ punya pacar, satu-satunya cara adalah REBUT dan REBUT!, terlalu kasar kah? Kalau yang diuber udah jauuuuuuuuh banget di sana haruskah menjual sawah dan ladang sekedar untuk numpak burung besi? haruskah menjual mekbuk? harus-harus? harus? hanya sekedar untuk mengejar? bukankah cinta? ahhhh bahh bahhhh bahhh.

Cewek cakep! kau bikin aku kliyeng-kliyeng dan ndak jelas!

Ayoooooo! Ungkapkan Saja!

Teman saya dari Rwanda sudah mengungakapkan isi hatinya pada seorang perempuan Brunei - yang mirip2 dewi persik - melalui YM!, seorang Meksiko yang selalu protes selama konferensi memeluk erat seorang perempuan Filipin yang selama konferensi menemani dia protes, dan seorang peserta dari Indonesia menggegam erat tangan seorang perempuan Brunei, menitikkan air mata, mata  yang berkaca-kaca, ahhhh konferensi, acara anak muda! mengapa kau selalu membawa kisah-kisah cinta yang memercik? bah bah bah!

Saya pun tertawa dalam hati, ketika seorang perempuan Filipin curhat di dalam taksi pada saya ketika saya mengantarkannya ke Bandara, dia berkata pada saya bahwa betapa “sejati” nya dan betapa perhatiaannya si Latino Meksiko itu padanya, sehingga membuat dia luluh, dan jatuh…- bah - cinta!, dia bilang pada saya bahwa dia sangat membenci hubungan seperti ini, karena mereka berdua dalam hitungan menit dan jam akan terpisah beribu-ribu kilo jarak waktu… dia bilang pada saya : “I hate him for doing this”, saya pun bergumam dalam hati “ah konferensi pemuda, letupan-letupan sesaat ini sering kali terjadi!”.

Melihat situasi-situasi seperti itu saya sepertinya sudah biasa, berhubung ini bukan kali pertama saya jadi peserta dan penyelenggara sebuah konferensi, saya sudah forecast sebelumnya bahwa hubungan-hubungan seperti itu pasti akan terjadi : kisah cinta antar negara, antar ras, antar generasi antar hati, antar religi dan antar propinsi.

Yeah itu pasti itu terjadi tak terkecuali pada sesiapapun entah itu pada panitia ataupun peserta, sampai saat ini pun saya masih berusaha mengerti peristiwa pagi itu - ya sebelum konferensi berlangsung saya menantang lantang-lantang perasaan2 seperti itu untuk menguji nyali saya - , peristiwa pagi yang menyentil saya, peristiwa pagi yang mengantarkan saya pada sebuah rasa yang kliyeng-kliyeng, rasa yang sudah saya “ramalkan” sebelumnya, rasa yang mengantarkan saya ke bandara untuk mengucapkan selamat jalan pada angin…..si Rwanda udah mengucapkan cinta pada si Brunei, si Meksiko sudah mengucapkan adio dengan mesra pada si Filipino…. lalu kini gilirian siapa? gosh!

Diproteksi: Madamemoiselle

Tulisan ini dilindungi kata sandi. Untuk melihatnya mohon masukkan sandi Anda di bawah ini:


Dzikir Kopi

Kopi, untuk rokok, rokok untuk api, api untuk asap, asap untuk abu, abu untuk debu, debu untuk atom, atom untuk nihil, nihil untuk AKU!

 

Bubur Savoy Homan dan Gedung KAA

Ahh saya tak punya kamera untuk memotret keindahan savoyy di malam hari ini, saya hanya punya selera untuk segera menyantap bubur asia afrika di depan hotel savoy itu. Dua porsi sudah saya santap habis-habis, ah tuntas sudah hasrat untuk menikmati bubur itu.

KTT Asia Afrika, aneh saya lempeng banget memasuki gedung ini, ke sana ke mari dan melalu lintas di malam hari, di gedung ini, gedung yang konon sangat sakral itu.

Melintas ke sana kemari tanpa dosa, duduk di kursi-kursi sejarah bisa pertemuan sakral beberapa tahun yang silam itu, menikmati wireless, kabur dari orang-orang yang berbahasa cas cis cus itu, memandangi bendera-bendera bisu, masuk tanpa mengeluarkan uang sepeser pun, Tuhan ternyata aku harus banyak bersyukur…bersyukur…bersyukur atas teman-teman baik yang mengelilingiku. Amin

SHE;

SHE; mengenal saya cuma sekilas saja SHE; rambutnya sebahu, mengingatkan saya pada seorang perawan Vivaldi: Anna Maria dal Violin dalam Vivaldi’s Virgin SHE; rambutnya sebahu, ahhhhhhh,geeeeeeez mirip Rimi Natsukawa sewaktu menyanyikan lagu Shima Uta yang mengulek-ulek rasa itu! SHE; saya selalu membayangkan dia bernyanyi Shima Uta untuk saya SHE; rambutnya sebahu! memainkan biola! memainkan Shamisen! bernyanyi Shima Uta SHE; ahhhhhh dia membuat saya mellow malam ini! SHE; masa’ SEH?!!!

Bloger dan Kupingnya

Bloger suka menguping? bener gak? barusan saya bertatapan duduk di samping mbak-mbak berwajah yang bikin kliyeng kliyeng, saya tahu mereka nggosipin baju batik yang saya pakai, saya pilih diam dan menguping lalu memposting.

Bloger suka menguping? sepertinya mirip cerita mbah-mbah saya dulu, cerita tentang para kekasih Tuhan, makhluk halus dan tujuh langit. Dalam kisah itu makhluk halus diceritakan suka menguping kemesraan Tuhan, para malaikat, wali dan para kekasihNya, sedikit dari mereka yang berhasil, sebab para malaikat selalu berhasil mengusir mereka dengan panah api, tapi ada pula sebagian dari mereka yang berhasil, dan menyampaikan hasil kupingan mereka kepada paranormal dan para penebak nasib lainnya. Apakah ini bloger?

Jadi ngeblog: menguping dan memposting?

 

Air dan Udara

Truk-truk bermuatan air-air mineral komersil -dengan logo pabrik yang berbeda- baru saja melintas, teman saya bilang, itu semua punya Aqua, lalu saya mengiyakan dia -biasalah yang seperti cuma strategi pasar saja- biar tidak terkesan menguasai pasar. Saya berkata padanya “gila ya air sudah dikomersilkan dan diperjualbelikan seperti itu, orang-orang yang hidup di jaman dulu mungkin ndak bisa membayangkan ini bisa terjadi”, teman saya menimpali kembali “yahhh jangankan air, udarapun sekarang sudah diprospek pengkomerisialannya, mungkin saja kan kalau udara kita sudah demikian kotornya”, ah! saya tidak bisa membayangkan jika suatu saat ini terjadi…….

United, Liga Champion dan Azan Subuh

Akhirnya setelah 10 tahun silam saya kembali menyaksikan United juara liga champion lagi tadi ndak sia-sia saya begadang, benar lega setelah ngeliat Giggs dan kawan-kawan mengangkat tropi keramat Liga Champions itu. Benar-benar musim bola yang menyenangkan!

Menonton Liga Champions menghadirkan sensasi yang tersendiri bagi saya, banyak sekali nilai-nilai positif dari nonton siaran bola di pagi buta, saya bisa dengar sayu suara ayat-ayat Tuhan yang dikumandangkan dari jauh, azan subuh, dan terlebih lagi subuh saya ndak lagi dipatok ayam. Seiring dengan suksesnya United memenangi Liga Champions kali ini, subuh serasa lebih sempurna dan pagi hari pun terasa lebih bersemangat. United, Sir Alex dan sepakbola telah benar-benar merasuki diri saya, Glory Glory Manchester United!

*gambar diambil dari sini

Nama-nama yang ‘ada’

Nama saya?Sampean sering kan ketemu orang-orang yang memakai name tag? Seperti penjaga toko, swalayan, mal, penunggu gerbang tol, mbak-mbak pemberitahu (teller) di bank, juru parkir, penungguwan dan penungguwati di resto-resto atau profesi-profesi lainnya yang memakai name tag. Memikirkan mereka-mereka yang memakai name tag itu saya merasa sedikit ngeri, bagaimana tidak secara kasat mata sudah jelas di depan mata bagaimana mbak-mbak berseragam di kerfour di depan mesin jual beli terlihat hanya sekedar menekan tombol-tombol memasukkan barang-barang ke kantong lalu mengucapkan terima kasih, sangat mekanik! Juga sama seperti penunggu gerbang tol, setiap kali saya melihat orang-orang seperti mereka membuat saya sering membatin, mungkin orang-orang seperti inikah yang disebut sekrup kapitalis seperti yang pernah diceritakan sang pewarta jagat itu?

Pernahkah orang-orang menganggap keberadaan mereka? Atau pernahkah kita sedikit melirik pada senyuman mbak-mbak itu? Pernahkah mereka merasa ada di tengah-tengah deru mesin kapital itu? Apakah mereka merasa mereka adalah sekrup dari sebuah mesin besar?

Iwe, teman saya, datang memberi pekabaran unik tentang fenomena ini, dia pernah berkata pada saya di sebuah resto, “zeen mereka yang nunggu itu kan memakai name tag, sebut saja nama mereka ketika kita lagi ngomong ama mereka, mereka kan udah susah-susah masang name tag, setidaknya kalau kita nyebut nama mereka, mungkin mereka akan merasa dianggap”, dianggap? Ya itu dia! Menganggap! Mengaggap orang lain ada, setidaknya akan membantu mereka untuk ada dan eksis, mengangkat ego mereka, ego yang (mungkin) telah lama terjebak dalam proses mekanisasi, siapa tahu dengan menyembut nama mereka, menganggap mereka ‘ada’, kita akan menjadi bagian dari detik-detik indah mereka dalam deru ganas mesin kapital yang menggerus rasa dan mengubur ego dengan hasrat duniawi. Terima kasih teman, saya tercerahkan.

Hari ini sewaktu sore menjelang di sebuah bank saya menyebut nama mbak pemberitahu itu dengan fasih: “mbak Rini, makasih ya”, dan mbak itupun tersenyum simpul pada saya seraya membereskan berkas-berkasnya. Saya pun tersenyum kembali seraya kliyeng-kliyeng setelah itu dan bergegas pergi. Inikah sedekah abstrak yang sering disebut-sebut bapak-bapak kyai saya itu? atau cuma gombalan? Ah saya ndak tahu, yang saya tahu dia hanya tersenyum, mungkin dia seneng atau…

*gambar diambil dari sini.

*ah saya ngeblog lagi…

Halaman Berikutnya »