Sampean sering kan ketemu orang-orang yang memakai name tag? Seperti penjaga toko, swalayan, mal, penunggu gerbang tol, mbak-mbak pemberitahu (teller) di bank, juru parkir, penungguwan dan penungguwati di resto-resto atau profesi-profesi lainnya yang memakai name tag. Memikirkan mereka-mereka yang memakai name tag itu saya merasa sedikit ngeri, bagaimana tidak secara kasat mata sudah jelas di depan mata bagaimana mbak-mbak berseragam di kerfour di depan mesin jual beli terlihat hanya sekedar menekan tombol-tombol memasukkan barang-barang ke kantong lalu mengucapkan terima kasih, sangat mekanik! Juga sama seperti penunggu gerbang tol, setiap kali saya melihat orang-orang seperti mereka membuat saya sering membatin, mungkin orang-orang seperti inikah yang disebut sekrup kapitalis seperti yang pernah diceritakan sang pewarta jagat itu?
Pernahkah orang-orang menganggap keberadaan mereka? Atau pernahkah kita sedikit melirik pada senyuman mbak-mbak itu? Pernahkah mereka merasa ada di tengah-tengah deru mesin kapital itu? Apakah mereka merasa mereka adalah sekrup dari sebuah mesin besar?
Iwe, teman saya, datang memberi pekabaran unik tentang fenomena ini, dia pernah berkata pada saya di sebuah resto, “zeen mereka yang nunggu itu kan memakai name tag, sebut saja nama mereka ketika kita lagi ngomong ama mereka, mereka kan udah susah-susah masang name tag, setidaknya kalau kita nyebut nama mereka, mungkin mereka akan merasa dianggap”, dianggap? Ya itu dia! Menganggap! Mengaggap orang lain ada, setidaknya akan membantu mereka untuk ada dan eksis, mengangkat ego mereka, ego yang (mungkin) telah lama terjebak dalam proses mekanisasi, siapa tahu dengan menyembut nama mereka, menganggap mereka ‘ada’, kita akan menjadi bagian dari detik-detik indah mereka dalam deru ganas mesin kapital yang menggerus rasa dan mengubur ego dengan hasrat duniawi. Terima kasih teman, saya tercerahkan.
Hari ini sewaktu sore menjelang di sebuah bank saya menyebut nama mbak pemberitahu itu dengan fasih: “mbak Rini, makasih ya”, dan mbak itupun tersenyum simpul pada saya seraya membereskan berkas-berkasnya. Saya pun tersenyum kembali seraya kliyeng-kliyeng setelah itu dan bergegas pergi. Inikah sedekah abstrak yang sering disebut-sebut bapak-bapak kyai saya itu? atau cuma gombalan? Ah saya ndak tahu, yang saya tahu dia hanya tersenyum, mungkin dia seneng atau…
*gambar diambil dari sini.
*ah saya ngeblog lagi…
Komentar Terakhir