Category Archives: Wazeenisme

Tak Perlulah Dimengerti, Jika Dimengerti Saya Bisa Ketahuan

Standar

Di suatu malam, malam yang letih, sebuah eksistensi yang letih termangu, tenggorokannya serasa tersendat cairan yang ia tak mengerti, ada satu, dua, tiga kata yang berhasrat menyeruak keluar. Entah eksistensi tak mengerti mengapa kata-kata tertahan di rongga tenggorokannya. Ia berdoa, berharap semesta berkonspirasi membeberkan kata-kata itu pada eksistensi lain, di sana, di sebuah tempat berukuran persegi. Eksistensi yang memberinya kesejukan, eksistensi yang membuatnya de ja vu, eksistensi yang membuatnya ekstase, eksistensi yang membuatnya hidup.

Eksistensi yang letih itu bertanya pada angin, bumi dan udara, dan Pencipta seluruh eksistensi di semesta: tugasnya-kah menyampaikan tiga kata pusaka itu pada eksistensi di ruangan persegi itu? . Demi Tuhan, lebih mudah bersembahyang lima waktu dalam sehari, bernyanyi dan berzikir tentang semesta daripada mengucapkan tiga kata pusaka itu pada eksistensi dalam ruangan persegi itu. Inikah saatnya bagi eksistensi itu memutuskan? untuk memecahkan kebuntuan yang telah lama menggerogoti dirinya? malam makin larut, semoga eksistensi di dalam ruangan itu tidur nyenyak dan bermimpi indah, malam ini. Amin.

Aku

Standar

Sesuatu menggelitik di kepala, lalu ditulis, lalu jadilah tautan kata-kata aneh yang tak perlu dimengerti:

Panggillah aku kamu dan sebutlah dirimu aku. Aku yang kamu, kamu yang aku, dan aku yang mengaku, dan tak ada lagi saya, sebab saya melebur dalam aku dan anda melebur dalam kamu, dan kamu melebur dalam aku dan aku melebur dalam kamu, dan aku dan kamu melebur dalam CINTA tanpa syarat dan kondisi! –

Ciputat yang mempunyai pagi, 13.10.08

Dan dua puluh enam terjadi pada hari ini

Standar

Dua puluh enam terjadi pada hari ini jam 00.00 -jam kaca mata-, awal dua puluh enam menghadiahiku sepasang kaca di mataku – sulit dipercaya – kiri 1, kanan 1.50 -MacBook atau apple effect? tak tahulah-, sudah uzurkah dunia? dua puluh enam menghadirkan cemas di setiap penyebutan usia -sebelumnya lancar-lancar saja menyebut umur- sudah tuakah dunia?.

Di dua puluh enam, ada syukur, ada apresiasi, ada banyak pesan elektronik dari sahabat, saudara dan rekan-rekan. TERIMA KASIH telah menjadi bagian dari seorang Abdullah Alwazin – yang selalu menulis namanya dengan Wazeen agar terlihat lebih keren-, seorang lelaki dari Luk-Guluk, Sumenep Madura Jawa Timur, seorang yang bermimpi merambah lima benua di muka bumi ini.

Di dua puluh enam, adakah kamu?

SHE;

Standar

SHE; mengenal saya cuma sekilas saja SHE; rambutnya sebahu, mengingatkan saya pada seorang perawan Vivaldi: Anna Maria dal Violin dalam Vivaldi’s Virgin SHE; rambutnya sebahu, ahhhhhhh,geeeeeeez mirip Rimi Natsukawa sewaktu menyanyikan lagu Shima Uta yang mengulek-ulek rasa itu! SHE; saya selalu membayangkan dia bernyanyi Shima Uta untuk saya SHE; rambutnya sebahu! memainkan biola! memainkan Shamisen! bernyanyi Shima Uta SHE; ahhhhhh dia membuat saya mellow malam ini! SHE; masa’ SEH?!!!

Liberalisme dan Perjodohan

Standar

Dunia sudah makin aneh, terlalu banyak paradoks, sering kali saya bertemu dengan orang-orang yang mengaku atau memberi label dirinya adalah orang yang berpikiran liberal dan terbuka, tapi sesering itulah saya menyaksikan kekonservatifan mereka dalam bertindak dan bersikap, tentang keluarga, dan kebanyakan dari mereka juga menyetujui sebuah sistem purba yang bernama: “perjodohan“.

Sigh , perjodohan bagi saya adalah satu-satunya sistem kekerabatan kapitalistik yang lahir dari adat timur. Kita HARUS melawan!

Dan entah kenapa tiba-tiba di belakang saya ada yang memutar lagu Hikki yang berjudul First Love. Nyambung? Mungkin!

Liberal dan Keliaran

Standar

Masih ada saja orang-orang yang alergi dengan kata-kata liberal, seringkali kata liberal dimaknai secara parsial dan bias, liberal dimaknai keliaran. Padahal sebuah “liberal” selalu melahirkan dan menuntut sebuah aturan main yang tidak dapat dilanggar.

Liberal menuntut sebuah konsekuensi.

My December

Standar

Saya harus segera mengganti lagu November Rain-nya Guns N’ Roses ke My December-nya Linikin Park, ini sudah bulan Desember, saatnya menerawang kembali ke bulan-bulan silam, melihat, merenung dan merasa.

Selamat datang Desember, semoga selalu ada harapan, dan semoga lebih baik.