Category Archives: Indonesia

Ini masalah saya, bukan masalah sampean, begitulah kira-kira

Standar

Mungkin ini yang namanya writer’s block, hari ini saya merasa nothing to post, oleh karena itu saya mencoba untuk mengkopi paste tulisan yang pernah saya tulis di notes facebook saya, ah demi mengejar target posting dalam #365dayspost, okey baiklah moho dimaafkan. Tapi sebelumnya izinkan saya membuat disclaimer.

[DISCLAIMER: tulisan ini saya kopi paste dari notes saya yang di facebook, jadi isinya sama persis dengan yang di sana]

Cewek itu cakep gak sih? pertanyaan khas seorang lelaki sejati yang sangat ‘visioner’, jawabannya biasanya lelaki yang lain suka menjawab, cakep sih, tapi sayang kakinya gede, cakep sih, rampingan dikit lah, cakep sih, tapi come on agak seksi dikit lahhh, cakep sih, tapi mancungan dikit lahh.

 

Biasanya (sekali lagi, ini masalah saya bukan masalah sampean) lelaki yang menjawab seperti itu adalah lelaki yang gak tegas dan sama sekali gak visioner, lah iya kan lelaki seperti gak bisa membedakan batas jelas antara cakep dan non-cakep, mereka suka bermain di wilayah abu-abu. Menurut saya lelaki sejati hanya memberikan satu garis jawaban: cakep dan tidak cakep, jawaban yang terdengar sangat kejam, menyayat, silet, gergaji, traktor, samurai, mencelurit (eh) atau apapunlah benda tajam lainnya, tapi jawaban itu merupakan jawaban yang jujur dan tegas dan gak menya-menye. Jawaban yang mungkin bikin kaum hawa yang sentimentil dan emosionil segara mempermak habis tampangnya setelah itu, atau bikin kaum yang intelek, pandai, cendikia, pejuang jender akan segera mencak-mencak protes atau bikin long march, atau mengeluarkan sejuta argumen kesetaraan dan kehebatan jenis jender mereka.

 

Tapi bagaimanapun untuk masalah cinta pada cewek, wanita atau perempuan-juga untuk cowok- (DISCLAIMER: semua orang dewasa sudah tahu hal ini saya cuma menuliskannya kembali karena memang cocok dengan template pikiran saya*), pertanyaan dan pernyataan di atas sama sekali kriteria fisikal seperti itu sudah sangat usang, ya semua orang akhirnya kembali pada suatu pernyataan klise yang klasik: “Nobody’s perfect until you love her/him”, tak ada yang sempurna kecuali sampean mencintainya dalam ketidaksempurnaannya yang sempurna (embulet ini),nahhh variabel jawabannya adalah:

 

1. T: cewek sampean cakep? J: Ya, cewek saya cakep 🙂 , dan saya mencintainya 🙂

2. T: cewek sampean cakep? J: Gak, cewek saya gak cakep :D, tapi saya mencintainya sepenuh hati 🙂

 

Nah untuk masalah cakep dan tidak (DISCLAIMER: semua orang dewasa sudah tahu hal ini saya cuma menuliskannya kembali karena memang cocok dengan template pikiran saya*) tentu saja semua sangat relatif dan judgmental, nah dari titik ini saya ingin berbagi sesuatu, entah kenapa media sosial, dalam hal ini facebook juga menambahkan nilai dalam menilai sesuatu yang sangat relatif ini, suatu ketika saya bertemu dengan seseorang yang saya lihat pertama kali cakep (setidaknya begitulah penilaian fisikal nan dangkal saya), percakapan pun mengalir bak aliran sungai musi, mahakam atau sungai yang terus mengalir di negeri ini, percakapan yang cerdas,kritis, intelek, beda atau apapunlah namanya, kami pun bertukar nomor telpon, akun fesbuk dan apapun yang dapat menghubungkan kami kembali suatu saat nanti (eh), hari demi hari berlalu sayapun meng-add dia sebagai teman saya di facebook, dan dia pun approve, masuklah saya dalam daftarnya, dan saya pun mengecek profil dan statusnya, eh entah kenapa hari demi hari saya merasa ilfil ketika (saat) membaca status update-nya tiap hari, akhirnya saya berkesimpulan: saya ilfil ama dia, dan ada sebuah kesimpulan aneh yang saya miliki, yaitu saya mudah ilfil bahkan pada cewek cakep (dalam kesimpulan fisikal-dangkal saya) yang statusnya selalu update di facebook. Begitulah dan begitulah, sekali lagi ini masalah saya bukan masalah sampean teman.

 

Selamat berhari Sabtu!

 

*eh jadi saya orang biasa-biasa saja ya?

** mohon maaf kalau yang ini sedikit menyelekit atau bikin gak enak, karena sekali lagi ini masalah saya bukan masalah sampean, begitulah kira-kira, mohon dimaafkan kiranya. Amin

Sapaan Mesra

Standar

Akhirnya saya baru tahu makna dibalik sapaan mesra teman-teman media ketika mereka menjelajah jalanan di kota Jakarta yang penuh sesak dengan banyak-nya putaran roda-roda gila, dulu saya sama sekali ndak mengerti kenapa mas yus memakai kata-kata itu ketika dia dan saya mendapat teguran mesra dari seorang ‘punggawa kerajaan’ di jalanan.

Bahrul, Embi, MBI, begitulah nama teman saya yang satu ini yang menyingkap makna misteri dibalik kata itu, dia bercerita pada saya dan teman tentang pengalamannya menjelajah di jalanan kota Jakarta, terutama di saat-saat ‘genting’ di jalanan dan dia berada di garis mati atawa deadline di pabriknya, di saat itulah dia harus memacu secepat kilat kuda besinya menuju pabriknya, dan tak jarang di saat-saat seperti itulah dia sering kali harus berurusan dengan para ‘punggawa kerajaan’ dengan mainan sempritannya, tapi anehnya dia dengan lempeng saja mengeluarkan kata ‘komandan’ plus kartu sakti dari pabriknya lalu selesai sudah urusan dengan bapak punggawa itu.

“Komandan”, hmm apa benar itu sapaan mesra teman-teman pengabar itu? ah saya jadi makin teryakinkan ketika ingat peristiwa beberapa bulan silam setelah balik dari pusaran Indonesia bersama mas yus itu.

Eh iya pagi ini saya ketemu komandan itu, dan secara spontan saya juga mengucapkan kata itu padanya, dan saya melihat sedikit perubahan di air mukanya.  Jujur saya masih ndak begitu paham kenapa mereka begitu alergi dengan kata itu, inferioritas? ketakutan akut?

Lalu Sheila on 7 pun menyanyikan lagunya…ndaan…pabila esok…datang kembali…lupakan lah saja diriku.

Benturan Budaya antara Indonesia-Malaysia

Standar

Satu lagi Indonesia-Malaysia, pemerintah Malaysia dengan percaya diri mengklaim tari Reog Ponorogo dengan nama tari Barongan sebagai tarian nasional mereka, belum lama rasanya mereka menyentil bangsa Indonesia dengan pengklaiman lagu Rasa Sayange dan sekarang sudah ada isu baru lagi, sampai kapan mereka akan terus melakukan pengklaiman terhadap aset-aset kebudayaan nasional kita?

Bagi saya sederhana saja jawabannya, jawabannya masih tetap terletak pada integritas bangsa kita, sudah seberapa jauh kita peduli terhadap aset-aset budaya kita? Sudah seberapa jauh kita peduli pada nasib saudara-saudara kita di seluruh Indonesia (ingat kata Indonesia bermakna jajaran pulau-pulau yang terbentang dari Sabang hingga Merauke, bukan hanya Jakarta!), hemat saya letak permasalahan pengklaiman-pengklaiman kultural (dan juga material, ingat kasus Sipadan dan Ligitan!) yang dilakukan oleh negeri jiran Malaysia itu ada pada masalah integritas kebangsaan kita, nasionalisme kita.

Saya rasa dalam beberapa hal kita patut “berterima kasih” pada Malaysia yang telah mencubit kita dengan insiden-insiden kultural belakangan ini, insiden-insiden itu telah mengingatkan kepada kita untuk ngeh terhadap aset-aset budaya yang kita miliki, kita mesti ngeh kalau yang namanya aset itu lebih dari sekedar materi.

Lalu setelah insiden-insiden apakah kita akan “tertidur” lagi? Dan abaladas (bangun seketika) bangun ketika dicubit lagi? Menunggu Malaysia mengklaim seluruh aset budaya Nusantara sebagai bagian dari budaya mereka? Tidak!

Budaya memang butuh perhatian yang lebih dan secara kontinyu, karena dari situlah karakter sebuah bangsa akan terbentuk. Dan budaya penuh kompleksitas, karena ia adalah hasil cipta karsa manusia, dan seiring perkembangan zaman budaya juga penuh fleksibilitas, ia bisa menjadi milik siapa saja, entah itu sang pencipta budaya atau si pemelihara budaya.

Okelah untuk menegangkan urat syaraf untuk sesaat it’s ok untuk beradu argumen (bukan beradu militer!) dengan orang-orang dan pemerintah Malaysia, tapi yang perlu digaris bawahi adu argumen itu harus hanya sesaat, kenapa sesaat? Karena jika kita bersungguh-sungguh berintegritas, yakinlah mereka juga akan berpikir ribuan kali untuk mengklaim aset-aset nasional kita. Oke sampai di sini saja ya makian-makian terhadap negeri tetangga itu mari bangkit bukan dengan memisuh.

Nasionalisme yang kita miliki bukan nasionalisme memisuh dan perang kan? Nasionalisme kita akan mencerahkan bangsa kita, dan juga bangsa-bangsa di yang ada di dekat kita, saya sangat tersentuh dengan kata-kata bijak dari Gandhi tentang India:

India will arise but not among the ruin of other nations” (India akan bangkit tapi tidak di antara reruntuhan puing bangsa lain), menurut saya, begitu juga Indonesia.

Sebuah sesi yang bernama Ngopi Yuk (difasilitasi oleh Gerakan Positif Indonesia) telah menginspirasi tulisan ini. Untuk seluruh teman-teman di Gerakan Positif Indonesia , saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. You’re rock guys!

English version can be found here.

Sekte Sesat

Standar

Saya malas sekali menyimak berita-berita yang terjadi di dalam negeri saat ini, iramanya tak pernah berubah, kebanyakan aura berita negatifnya, dan yang terakhir saya simak adalah masih belum dewasanya kita menyikapi perbedaan, perbedaan masih terus dianggap sebagai sesuatu yang mesti harus diberantas, dihancurkan dilarang dan lain sebagainya.

Keputusan pemerintah DKI Jakarta untuk melarang ajaran aliran yang dianggap “sesat” baru-baru ini, aliran Al Qiyadah Islamiyah (ini bukan yang pertama), adalah jelas-jelas menodai konstitusi dan demokrasi yang kita bangun saat ini, kita semua mafhum konstitusi negara kita bukanlah konstitusi yang berlandaskan agama tertentu atau sekte terentu, semua orang pun tahu itu, dan dalam UUD dan Pancasila pun setiap umatnya dijamin untuk memeluk suatu agama sesuai dengan keyakinannya. Saya sudah capai mendengar berita-berita yang semacam ini.

Saya yakin ke depan akan semakin banyak bertumbuhan (saya pikir ini adalah sebuah keniscayaan dari sebuah ajaran atau kredo) sekte-sekte baru yang oleh masyarakat kebanyakan akan dianggap sesat, hemat saya, fenomena ini muncul seiring dengan terlalu banyak disintegritas di dalam kehidupan ber-Indonesia kita, terlalu banyak kekecewaan dan ketika ada harapan-harapan, dan harapan itu bisa dipenuhi dengan jalur instan, maka muncullah yang namanya sekte yang dianggap “sesat” itu.

Kita masih belum Indonesia, kita hanyalah sekumpulan suku-suku kecil yang disekat-sekat dengan perbedaan agama, ras, bahasa dan berbagai macam perbedaan lainnya, tapi meski kita belum Indonesia, mari kita terus meng-Indonesia, Indonesia bangkit!