Category Archives: Indonesia

Adakah Cinta di Madura?*

Standar

Saya terinspirasi untuk menulis ini dari tulisan Mas Alfred Pasifico yang menulis “Adakah cinta di India?”, dia mengutip kalau sebagian besar perkawinan di India berdasarkan perjodohan yang diatur oleh kedua orang tua dan semangat yang mendasari perkawinan tersebut banyak didorong oleh faktor ekonomi dan status sosial juga.
Read the rest of this entry

Iklan

Sapaan Mesra

Standar

Akhirnya saya baru tahu makna dibalik sapaan mesra teman-teman media ketika mereka menjelajah jalanan di kota Jakarta yang penuh sesak dengan banyak-nya putaran roda-roda gila, dulu saya sama sekali ndak mengerti kenapa mas yus memakai kata-kata itu ketika dia dan saya mendapat teguran mesra dari seorang ‘punggawa kerajaan’ di jalanan.

Bahrul, Embi, MBI, begitulah nama teman saya yang satu ini yang menyingkap makna misteri dibalik kata itu, dia bercerita pada saya dan teman tentang pengalamannya menjelajah di jalanan kota Jakarta, terutama di saat-saat ‘genting’ di jalanan dan dia berada di garis mati atawa deadline di pabriknya, di saat itulah dia harus memacu secepat kilat kuda besinya menuju pabriknya, dan tak jarang di saat-saat seperti itulah dia sering kali harus berurusan dengan para ‘punggawa kerajaan’ dengan mainan sempritannya, tapi anehnya dia dengan lempeng saja mengeluarkan kata ‘komandan’ plus kartu sakti dari pabriknya lalu selesai sudah urusan dengan bapak punggawa itu.

“Komandan”, hmm apa benar itu sapaan mesra teman-teman pengabar itu? ah saya jadi makin teryakinkan ketika ingat peristiwa beberapa bulan silam setelah balik dari pusaran Indonesia bersama mas yus itu.

Eh iya pagi ini saya ketemu komandan itu, dan secara spontan saya juga mengucapkan kata itu padanya, dan saya melihat sedikit perubahan di air mukanya.  Jujur saya masih ndak begitu paham kenapa mereka begitu alergi dengan kata itu, inferioritas? ketakutan akut?

Lalu Sheila on 7 pun menyanyikan lagunya…ndaan…pabila esok…datang kembali…lupakan lah saja diriku.

Benturan Budaya antara Indonesia-Malaysia

Standar

Satu lagi Indonesia-Malaysia, pemerintah Malaysia dengan percaya diri mengklaim tari Reog Ponorogo dengan nama tari Barongan sebagai tarian nasional mereka, belum lama rasanya mereka menyentil bangsa Indonesia dengan pengklaiman lagu Rasa Sayange dan sekarang sudah ada isu baru lagi, sampai kapan mereka akan terus melakukan pengklaiman terhadap aset-aset kebudayaan nasional kita?

Bagi saya sederhana saja jawabannya, jawabannya masih tetap terletak pada integritas bangsa kita, sudah seberapa jauh kita peduli terhadap aset-aset budaya kita? Sudah seberapa jauh kita peduli pada nasib saudara-saudara kita di seluruh Indonesia (ingat kata Indonesia bermakna jajaran pulau-pulau yang terbentang dari Sabang hingga Merauke, bukan hanya Jakarta!), hemat saya letak permasalahan pengklaiman-pengklaiman kultural (dan juga material, ingat kasus Sipadan dan Ligitan!) yang dilakukan oleh negeri jiran Malaysia itu ada pada masalah integritas kebangsaan kita, nasionalisme kita.

Saya rasa dalam beberapa hal kita patut “berterima kasih” pada Malaysia yang telah mencubit kita dengan insiden-insiden kultural belakangan ini, insiden-insiden itu telah mengingatkan kepada kita untuk ngeh terhadap aset-aset budaya yang kita miliki, kita mesti ngeh kalau yang namanya aset itu lebih dari sekedar materi.

Lalu setelah insiden-insiden apakah kita akan “tertidur” lagi? Dan abaladas (bangun seketika) bangun ketika dicubit lagi? Menunggu Malaysia mengklaim seluruh aset budaya Nusantara sebagai bagian dari budaya mereka? Tidak!

Budaya memang butuh perhatian yang lebih dan secara kontinyu, karena dari situlah karakter sebuah bangsa akan terbentuk. Dan budaya penuh kompleksitas, karena ia adalah hasil cipta karsa manusia, dan seiring perkembangan zaman budaya juga penuh fleksibilitas, ia bisa menjadi milik siapa saja, entah itu sang pencipta budaya atau si pemelihara budaya.

Okelah untuk menegangkan urat syaraf untuk sesaat it’s ok untuk beradu argumen (bukan beradu militer!) dengan orang-orang dan pemerintah Malaysia, tapi yang perlu digaris bawahi adu argumen itu harus hanya sesaat, kenapa sesaat? Karena jika kita bersungguh-sungguh berintegritas, yakinlah mereka juga akan berpikir ribuan kali untuk mengklaim aset-aset nasional kita. Oke sampai di sini saja ya makian-makian terhadap negeri tetangga itu mari bangkit bukan dengan memisuh.

Nasionalisme yang kita miliki bukan nasionalisme memisuh dan perang kan? Nasionalisme kita akan mencerahkan bangsa kita, dan juga bangsa-bangsa di yang ada di dekat kita, saya sangat tersentuh dengan kata-kata bijak dari Gandhi tentang India:

India will arise but not among the ruin of other nations” (India akan bangkit tapi tidak di antara reruntuhan puing bangsa lain), menurut saya, begitu juga Indonesia.

Sebuah sesi yang bernama Ngopi Yuk (difasilitasi oleh Gerakan Positif Indonesia) telah menginspirasi tulisan ini. Untuk seluruh teman-teman di Gerakan Positif Indonesia , saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. You’re rock guys!

English version can be found here.

Sekte Sesat

Standar

Saya malas sekali menyimak berita-berita yang terjadi di dalam negeri saat ini, iramanya tak pernah berubah, kebanyakan aura berita negatifnya, dan yang terakhir saya simak adalah masih belum dewasanya kita menyikapi perbedaan, perbedaan masih terus dianggap sebagai sesuatu yang mesti harus diberantas, dihancurkan dilarang dan lain sebagainya.

Keputusan pemerintah DKI Jakarta untuk melarang ajaran aliran yang dianggap “sesat” baru-baru ini, aliran Al Qiyadah Islamiyah (ini bukan yang pertama), adalah jelas-jelas menodai konstitusi dan demokrasi yang kita bangun saat ini, kita semua mafhum konstitusi negara kita bukanlah konstitusi yang berlandaskan agama tertentu atau sekte terentu, semua orang pun tahu itu, dan dalam UUD dan Pancasila pun setiap umatnya dijamin untuk memeluk suatu agama sesuai dengan keyakinannya. Saya sudah capai mendengar berita-berita yang semacam ini.

Saya yakin ke depan akan semakin banyak bertumbuhan (saya pikir ini adalah sebuah keniscayaan dari sebuah ajaran atau kredo) sekte-sekte baru yang oleh masyarakat kebanyakan akan dianggap sesat, hemat saya, fenomena ini muncul seiring dengan terlalu banyak disintegritas di dalam kehidupan ber-Indonesia kita, terlalu banyak kekecewaan dan ketika ada harapan-harapan, dan harapan itu bisa dipenuhi dengan jalur instan, maka muncullah yang namanya sekte yang dianggap “sesat” itu.

Kita masih belum Indonesia, kita hanyalah sekumpulan suku-suku kecil yang disekat-sekat dengan perbedaan agama, ras, bahasa dan berbagai macam perbedaan lainnya, tapi meski kita belum Indonesia, mari kita terus meng-Indonesia, Indonesia bangkit!