Category Archives: Movie Review

Ketika Saya Menonton Sang Pencerah

Standar

Saya memtuskan untuk menonton film ini untuk menunggu sepur saya yang akan berangkat ke Stasiun Gambir pada pukul 20.00, ditambah dengan keinginan untuk menikmati nuansa ‘eksotik’ dan ‘nostalgik’ (masa kecil saya) mall Tunjungan Plaza Surabaya, akhirnya saya memutuskan untuk menonton film ini.

Jelas sejak awal saya memang menegaskan posisi awal saya sebagai seorang Nahdliyin kultural, meski saya sempat terlibat di PMII selama beberapa bulan, saya menegaskan diri saya tetap seorang NU kultural, karena saya lebih menyukai melihat NU sebagai sebuah budaya daripada sekedar susunan sturuktural semata. Okey enaf, bagaimana reaksi saya pada film ini?

Kali ini saya ingin lebih memfokuskan pada pesan yang saya tangkap di film ini daripada melihat dari sudut pandang sinematografi dan yang sejenisnya, mengingat saya masih belum memiliki kompetensi di bidang itu.

Okey! enaf the intro! sebagaimana yang sudah direview oleh banyak kawan-kawan jelas ekspos tentang perubahan dan pembaruan merupakan sesuatu yang sangat layak diapresiasi dan juga ide-ide tentang pluralisme menurut saya pantas diacungi jempol.

Ya memang saya tahu ini film tentang KH.Ahmad Dahlan dan asal muasal berdirinya persyarikatan Muhammadiyah yang tak pelak lagi di awalnya akan pasti terdapat penggambaran tentang gerakan pemurnian Islam, tapi yang sangat sayangkan ekspose terhadap hal ini sedikit berlebihan, dan hal ini sangat tidak sensitif terhadap kelompok yang memiliki apreasiasi terhadap tradisi, dan terkesan memunculkan keterasingan Islam dan tradisi,

Dan entah kenapa mendadak kuping saya panas tujuh keliling, dan perasaan untuk beranjak pergi dari bangku bioskop muncul, ketika muncul kata-kata ” tahlil tidak usah dilakukan”, “tidak usah selametan pernikahan”, dan di titik saya sangat menyadari identitas saya, yang entah kenapa begitu mengakar kuat meski saya tak punya kartu tanda pengenal Nahdlatul Ulama.

blitzmegaplex dan 21cineplex

Standar

Sampai saat ini saya masih belum bisa melupakan kekaguman saya pada 3 Idiots, hingga saat ini saya sudah menonton film ini sebanyak tiga kali! ya saya rela membiarkan diri saya terkurung selama kurang lebih 1.5 jam di kendaraan umum dari Ciputat untuk menuju ke Blitzmegaplex di Pacific Place hanya untuk menonton film itu, dan saya juga rela untuk membuat kartu blitz hanya untuk nonton film ini!, dan sampai saat ini kartu itu hanya saya pakai untuk membeli tiket nonton film ini!

Magnet 3 Idiots untuk saya memang punya kesan tersendiri, dan ini yang menjadi daya tarik saya untuk ke blitz, film-film unik yang tidak tersedia di bioskop lainnya memang menjadi daya tarik tersendiri untuk datang ke sana, plus kemudahan untuk beli tiket secara simpel via online dengan kartunya.

Memang untuk menonton film di blitz saya harus sedikit berkorban dengan harganya yang sedikit di atas bioskop lainnya, oiya saya mengenal nama blitz pertama kali dari pestablogger yang pertama di tahun 2007. Aksesibilitas saya ke blitz lumayan susah, tapi semua ini bagi saya benar-benar terbayar lunas ketika menyaksikan film-film yang benar-benar entertaining dan enlighting, seperti 3 Idiots yang memiliki kompleksitas dalam tawa dan air mata, jujur ini film India pertama yang mau bikin saya nangis.

Jujur ketika melihat harga tiket di blitz yang di atas harga tiket di bioskop lain, saya sempat juga melirik pada cd-cd bajakan yang sangat mudah sekali tersedia di pedagang cd jalanan di dekat stadion lebak bulus, tapi komitmen saya untuk tidak membeli cd bajakan membuat saya tetap melangkahkan kaki untuk nonton yang asli di blitz.

21cineplex dari tempat kosan saya di Ciputat sangat mudah saya capai, di dekat sini ada dua opsi pertama di Bintaro, tapi frekwensi saya ke 21 bintaro terbilang jarang karena saya memang tidak mau nonton ke sana sendiri, karena di tempat itu sangat mudah sekali menjumpai teman-teman saya yang nonton secara berpasang-pasangan, ya pilihan kedua itu dia, di PIM, tempatnya lebih enak dan untuk nonton sendiri juga enak, ya ketika saya sudah sakau untuk nonton film opsi, saya ya menuju ke sana itu, tapi entah kenapa ya pasca direnovasi namanya juga ganti jadi XXI, dan harga tiketnya juga di update, but it’s ok lah, it’s still manageble, kendati tetap kebanyakan film-film yang diputer di 21cineplex masih kebanyakan film hollywood yang terkadang template-nya sangat mudah ditebak, seandainya film-film unik juga bisa diputer di sini.

Tentang 3 Idiots

Standar

[repost dari notes di fb dan curipandang]

Pernah ngebayangin gak ada orang yang bertampang sekelas Shahrukh Khan, mengemudikan mobil sekelas ferari dan mengenakan pakaian berkelas tiba-tiba keluar dari mobil, mencari pojokan di jalanan dan tiba-tiba, yes! pipis di tengah jalan tanpa tedeng aling-aling!

Itulah obrolan yang saya dengar dari teman-teman PPI di India sewaktu saya berkunjung ke New Delhi pada tahun 2006 silam, yes incredible India!, yang saya lihat setiap sudut kotanya seakan mengahdirkan lawakan yang tak pernah habis dimakan waktu.

Kembali ke masalah pipis, ya pipis di jalanan merupakan salah satu penyakit sosial yang saya lihat begitu akut, bahkan sangat dihayati oleh sebagian besar masyarakat India, jadi kalau anda ke Delhi, naik bajaj, dan tiba-tiba sopirnya berhenti secara spontan di tengah jalan, jangan kaget, dan jangan berprasangka negatif dulu, bhai (abang) bajay itu hanya ingin menyalurkan hasrat yang sangat manusiawinya, pipis, ya kembali ke kasus di atas tadi, jangankan sopir bajay orang sekelas Shahrukh Khan pun bisa saja melakukan hal yang sama.

Potret patologi sosial yang bernama pipis sembarangan di jalanan ini digambarkan begitu jelas dalam film 3 Idiots garapan Rajkumar Hirani melalui seorang tokoh rekaan dalam film ini yang bernama Chatur Ramalingam, seorang tokoh yang telah mencapai capaian finansial yang cukup wah dalam hidupnya akan tetapi masih memiliki kebiasaan yang sangat purba, dan mengukur segala kesuksesan dengan nominal dengan kepemilikan.

Dari awal hingga akhir film ini saya merasakan ekstase yang luar biasa, nostalgia yang luar biasa saya seoalah dipanggil kembali ke tanah Hindustan mulai dari awal film suasana di Indira Gandhi International Delhi airport hingga ke daerah Shimla, potret kesederhanaan India, hey mulai dari surat izin penerbitan film yang sederhanya di ‘scan’ di awal film spontan langsung membuat saya tersenyum; yes ini India, dance and laugh like no one watching!

Yup, sosok Rancho dimainkan cukup apik oleh Aamir Khan, memerankan seorang ‘Guruji’, atau ‘Bhagavan’, seorang yang memiliki kekuatan kebijaksanaan yang luar biasa, ya di India memang banyak sekali orang-orang yang dianggap memiliki kekuatan supranatural dan bijak, saya bisa bilang the land of Gurus, begitu gamblang mengkritisi potret kompetisi yang tidak sehat di tengah-tengah masyarakat India khususnya dalam merangking kemampuan seseorang dari prestasi dan kemampuannya di dalam kelas/sekolah, bahkan situasi ini tergambar jelas di jalanan India, yang begitu jelas menitikberatkan betapa luar biasa pentingnya rangking tersebut di poster-poster dan billboard jalanan.

Kutipan menarik dari film ini? okey, apa lagi bukan jargon dari film ini: ‘All is well’, dalam film ini mantra ini begitu ampuh melawan tekanan mental yang dialami oleh seseorang, ini mengingatkan saya pada sebuah pepatah “My biggest enemy is myself”, mantra penenang jiwa yang begitu diresapi dalam film ini.

Berikutnya menyusul ucapan bijak dari Guruji Rancho Ranchodas, “Do what you love, and success will follow”, kutipan ini menggambarkan sebuah panggilan jiwa, kerinduan kepada aku yang sejati, dan semangat jiwa.

Oiya satu lagi, beberapa minggu yang lalu entah di sebuah blog saya membaca tentang bukunya Jack Trout yang berjudul “Differentiate or Die” yang salah satu poinnya adalah “being the first is part of differentiating”, ha ha ha professor ViruS juga tak ketinggalan memberikan sumbangsihnya dalam dunia marketing, BE the FIRST!, sang professor menjelaskan hal ini dalam pertanyaannya: “Siapa manusia pertama yang mendarat di bulan?”, spontan seluruh mahasiswa menjawab: “Neil Armstrong!”, lalu dia menambahkan, “lalu siapa yang mendarat di bulan setelah Neil Armstrong?”, tak ada satupun mahasiswa yang menjawab, sang professor pun menjelaskan, “orang-orang akan selalu mengingat yang pertama, maka dari itu jadilah yang pertama!”. Kendati begitu antagonistik perannya dalam film ini, sang professor yang sepengetahuan saya di film ini adalah rektor dari college di mana 3 Idiots kuliah, namun tetap di awal film dia menggambarkan sosok sederhana dan kebersahajaan masyarakat India, bayangkana mana ada di sini seorang yang sekelas “rektor” mau memakai sepeda atau skuter ke kampus?

Inilah film India pertama yang saya tonton di tahun 2010, secara keseluruhan film ini bagi saya layak mendapat 4 bintang dari 5 bintang, oiya terjemahan dobel di layar begitu mengganggu, maunya sih ngasih 4.5, but it’s ok lah fair enough, tapi mbok ya kenapa film ini cuma beredar di Blitzmegaplex saja ya?, akan lebih jika film ini lebih terpublikasi secara luas dengan cara yang halal, khususnya ke daerah-daerah pelosok sana, seperti Madura misalnya yang selama ini sepengetahuan saya suka film-film India itu.

Oh ya beberapa menit yang lalu saya baru sadar kalau film tersebut disutradarai oleh Rajkumar Hirani, sutradara yang sama dengan film Munna Bhai MBBS (2003), Lage Raho Munnabhai (2006) yang menceritakan tentang semangat Gandhi itu.

Jaahe Nahin Denge

Standar

Lagu Jaahe Nahin Denge, bagian soundtrack dari 3 Idiots, benar-benar ngingetin saya suasana di New Delhi, sebuah pagi dengan sarapan masala chai dan samosa di sekitar okhla di bawah matahari, lalu jalan-jalan di pelataran Red Fort, setelah itu menghabiskan sepanjang sore di Connaught Place (CP).

Aroma rempah-rempah yang sangat kental dalam samosa benar-benar datang kembali.

Lagu ini mengantarkan pada sebuah “suksesi kerinduan”.

Alhamdulilah akhirnya berhasil juga posting blog lagi setelah sekian lama.

Baru menonton Cin(t)a

Standar

Serentetan email menyenrentak bagaikan revolver dikotak inbox facebook saya, ah ternyata sebuah promo film, saya pikir undangan nonton film gratis, dem! ternyata cuma promo, dan judulnya sama sekali tak menyontek hasrat untuk menonton, pake branding cinta-cinta, jujur kalimat itu ketika diungkapkan secara berani dan terang-terangan somehow kelihatan fake.

Lalu kapan saya mulai berhasrat menonton film ini? ya rentetan messages adalah salah satunya tapi sama sekali bukan pemicu, dimulai dengan status seorang teman di facebook : “semua ribut mau nonton cin(T)a, untung gw udah nonton”,Β  dimulailah pertanyaan itu apa sih untungnya? so what kalau udah nonton ini? mulailah saya mengecek di om Google, mulailah saya pasang status di facebook, menunggu respon dari teman, eh ternyata ada yang ngerespon, jadilah saya meniatkan diri untuk menonton, tapi saya sama sekali tidak ribut-ribut, just pengen nonton yang namanya film indie itu seperti apa that’s it.

Maaf mas yang jam 20.00 sudah penuh, adanya yang jam 21.45, tak apalah saya dan teman saya ambil yang jam segitu.

Oke saya datang ke ruangan tepat waktu pada jam 21.45 demi untuk tidak melewatkan adegan sedetik pun, tapi lohh? serentetan extra ads menyerentak cukup lama dan SANGAT membunuh waktu, membuat saya berpikir apa iya yang namanya film indie itu mesti banyak iklannya? atau yang banyak iklannya cuma di blitz aja? secara di 21 setahu saya iklannya gak sebanyak itu.

Oke oke oke, mari menonton; secara garis besar saya mengerti film ini berusaha untuk mengangkat tema-tema pluralisme dan romantika, plus kritikan centil nan nyentil untuk sistem negeri ini, ya semua itulah menurut saya yang membangun semua dialog-dialog intelek nan filosofis yang diramu dengan lompatan-lompatan aneh teori-teori Newton, hmm dialog? wait, somehow (sebagai pria Idaman) saya melihat dialog-dialog yang ada di film itu tak lebih dari sekedar teknik-teknik flirting saja.

Dialog-dialog yang terkesan smart dari awal hingga akhir film menurut hemat saya jelas mau menyampaikan pesan dialog interfaith yang dikemas dalam kisah romantika tragik, ya dialog yang disampaikan dengan bibir dan tatapan penuh makna (ah gw banget πŸ˜‰ ) , tapi kenapa ya unsur tragik dalam film ini kelihatan seperti “sinetronish”, yang membuat cewek yang duduk di samping kanan sayah sesenggukan pas di akhir-akhir film (ah saya jadi yakin pasti sebagian besar cewek akan tesedu-sedu mellow ndak jelas gitu sehabis nonton film ini, ah sudahlah…).

Okey let’s just wrap up!

Aktornya? ah bolehlah, fair enough,

Background nya? kampus ITB ini yang menarik buat saya, saya pernah tinggal di dekat kampus itu, jujur saya sangat appresiatif dengan sambutan hangat teman-teman di sanaΒ  sewaktu saya berkunjung ke sana, cuma saya sedikit tersiksa dengan kewajiban solat lima waktu secara berjamaah di masjid salman itu, ah bolehlah sebagai tamu saya harus berlaku sebagai tamu, bukan sebagai tuan rumah πŸ˜‰ , dan para perempuan extreme jilbaber yang berseliweran di mana-mana, padahal notabene ini bukan kampus Islam, aneh, saya juga sangat mafhum ungkapan yang diucapkan oleh Cina di film ini, “katanya yang mengucapkan selamat Hari Natal masuk neraka ya?, gw lihat di poster di kampus tadi”, saya sangat mafhum sekali ungkapan tersebut (CMIIW).

Setting waktu; sekitar 1999-2000, pada waktu-waktu itu memang bola-bola pluralisme perlahan mulai menggelindir di republik ini, dan di rentang waktu itulah ke-bhinnekaan dan unity in diversity bangsa ini sedang diuji, dan tepat di rentang waktu itulah saya merasakan kehadiran republik ini yang sesungguhnya, setting time nya boleh lah.

Filmmaking: hmm kayaknya sih film ini terkesan kejar tayang, dan terlihat beberapa bagian yang belum teredit secara sempurna.

Overall?? dapet 3.5 bintang lah dari 5 bintang, but still masih bukan film yang harus ditonton, but so so lahh…

Merantau dan Pencak Silat

Standar

Dulu saya lebih memilih untuk belajar Karate, alasannya simpel dan gak repot, keren, kesan saya keren ketika melihat aktor-aktor laga beladiri tersebut memainkan jurus-jurusnya, plus ketika aktor yang bersangkutan sedikit mengeluarkan darah, atau sedikit teriris dibagian mukanya, ah kelihatannya keren banget, dan jurus-jurus Karate yang begitu esensialis, simpel dan terarah.Merantau

Lalu belajarlah saya Karate aliran inkai, sampai sabuk kuning dan setelah itu, perlahan saya memilih aktifitas lain sehubungan dengan perpindahan saya untuk kuliah di Ciputat, dan saya hanya sampai yellow belt saja.

Hey dulu sewaktu saya masih di pesantren ada tiga aliran beladiri diajarkan sebagai kegiatan ekskul, Perisai Putih, Walet Hitam dan Karate Inkai, namun tetep yang menjadi pilihan saya tetap Karate, alasannya disamping dalam beberapa hal saya sudah ter-internasional πŸ˜‰ sejak dini, juga menurut saya dulu gerakan-gerakan yang ada di pencak silat sama sekali tidak menarik dan tidak keren; gerakan yang mendayu-dayu, lembek, muter-muter dan tidak to the point dan di samping itu gerakan Barry Prima atau pun Midun sama sekali tidak membuat saya terkesan kalah jauh dari aksi JC van Damme atau pun dramatiknya gerakan Paddy dalam komik Ashura ciptaan Masatoshi Kawahara.

Okelah itu dulu, entah kenapa barusan tangan saya ngaceng-ngaceng sepanjang jalan membentuk cakar tanpa mempedulikan orang-orang yang melihat kegantengan saya sepanjang jalan, saya terus mengacengkan tangan saya membentuk cakar harimau; yeah a movie effect, semuanya dari berasal dari Merantau!

Merantau; hasrat saya menonton film garapan sutradara Inggris ini berawal dari sebuah tret di milis anak muda Jakarta yang cool itu, dan karena saya yakin mereka termasuk jajaran orang keren maka timbullah hasrat saya untuk menonton film itu, satu kunci yang membuat saya pengen: saya bisa bilang film ini adalah salah satu trendsetter film action Indonesia, atau pemicu kebangkitan film action Indonesia pasca era Barry Prima.

Sensasi yang paling kuat ketika saya menonton film ini adalah speed nya yang meluncur begitu cepat dari awal hingga akhir, menonton film ini serasa menaiki sebuah kereta cepat atau melihat meteor.

Alur yang meteorik ini digambarkan dalam aksi pencak silat cakar Harimau yang begitu padat dari awal hingga akhir film, mata kita akan dipuaskan dengan aksi-aksi itu, tapi aksi-aksi silat yang menawan itu kurang dibagi porsinya dengan percakapan dramatik dari para pemainnya, alur nya begitu lurus dan cepat.

Akting pemain-pemain senior di film ini, seperti Christine Hakim tak perlu lagi diragukan, tapi kemampuan meraka seakan kurang sreg dengan aksi aktor-aktor pendatang baru.

Tapi overall, kemampuan para aktor pendatang baru itu dan kisah yang begitu heroik, tertutupi dengan baik dengan aksi akrobatik gerakan silat Cakar Harimau itu, juga dengan darah tipis di pelipis aktris tokoh Astrid – yang diperankan oleh Sisca Jessica, yang membuat saya bertanya2 sepanjang film apakah dia adalah saudaranya Agnes Monica-

Dan saya bisa bilang film ini dapet 3.5 bintang, dan prediksi saya film ini akan menjadi trendsetter film action Indonesia berikutnya, dan saya berharpa banyak anak-anak lain di berbagai belahan bumi mulai mengaceng-ngacengkan tangannya membentuk cakar Harimau, dan mereka akan berkata: ini Pencak Silat dari Indonesia!

MU, Fanatisme dan Romeo & Juliet-nya Bang Ucup

Standar

Kalau kamu bertanya apa yang kerap kali membuat saya tidak telat solat subuh di kala fajar menjelang? Jawabnya cuma satu: Liga Champions! Manchester United VS bla bla bla

Lalu kalau kamu bertanya apa yang membuat saya otomatis terjaga di malam hari tanpa harus menyalakan alarm? Liga Champions dan Manchester United pastinya!

Lagi masih mau bertanya pada saya? apa yang membuat kamu begitu bersemangat dan bergairah? yeah gol-gol indah Ji Sung, CR 7, dan sorak sorai Mbah Fergie menyambut kemenangan United.

Lalu mana sisa emosi saya untuk PSSI dan klub lokal? ah lupakanlah, ah prestasi timnas masih begitu buram, tak ada yang bisa diharapkan, lalu klub lokal? Persebaya? bukankah kamu orang Jawa Timur seharusnya kamu Persebaya dong? tidak, saya ndak pernah ngefans pada klub Surabaya yang satu itu, saya lebih terikat secara emosional ke klub sekota-nya Mitra Surabaya (dulunya Niac Mitra), tapi entah kemana klub itu lenyap ditelan waktu, sekarang emosi saya datar-datar saja pada klub-klub lokal yang ada, even Persebaya, saya bukan benar-benar orang Jawa Timur, saya orang Madura!

Tentang Romeo & Juliet versi bola Indonesia.

Daripada sebuah ‘film’ film ini lebih nampak seperti sebuah dokumenter tentang potret buram sepakbola di Indonesia, fanatisme yang over (ya saya sangat mengerti tentang semangat yang menggebu-gebu yang lahir dari si kulit bundar yang disepak itu), film ini sepertinya mau mengatakan sesuatu; ini loh sepakbola Indonesia dan fanatisme orang-orangnya -hingga makian eksentrik khas ‘kebun binatang’ juga ada dan menampilkan daftar panjang korban dari fanatisme ini di akhir tayangan-, dan juga menggambarkan jika Indonesia adalah pasar yang sangat-sangat potensial untuk industri bola, again nampaknya Bang Ucup belum bisa menghilangkan kesan ‘film dokumenter’ dari film ini, menurut saya film ini kurang lebih memiliki pesan yang sama dari film-filmnya yang sebelumnya; kesan yang yang sangat saya tangkap dari film ini–terlebih karena ~uniknya~ada teks bahasa Inggrisnya– adalah : ini loh sepakbola Indonesia, Industri bola yang sangat potensial!

Lalu polesan romantika di film ini? Rangga dan Desi? ah it’s very poor, — terlebih untuk pria idaman seperti saya πŸ˜€ — , sekedar untuk pemanis jalannya ‘film dokumenter’ ini, sekedar pemicu dan pemanis buatan agar kedua belah pihak (Jakmania dan Persib) lebih seru bertarungnya di luar lapangan, but however pesan yang sangat positif dari film ini adalah bahwa memang harus ada sebuah ‘extreme surgery’ –dan film ini serta peristiwa yang terjadi yang diakibatkan oleh film ini, hemat saya adalah salah satu dari proses itu– pada karakter dan seluruh elemen sepakbola di Indonesia, ya adegan-adegan yang begitu barbar di film itu bagi saya seolah mengatakan pesan itu.

Film ini subyektif? ya! agak the Jakmania sentris, bayangkan begitu beraninya seorang Rangga seorang diri berjalan menuju ke sarang Viking, waw begitu gagah! kalau yang beneran mungkin gak ya? :D, ok however film ini so cool, two thumbs up untuk Bang Ucup, buat saya film ini dapet 2.5 bintang lah.

Lalu bagaimana dengan film bola selanjutnya? Garuda di dadaku? Let’s see then!

*Eh ada satu lagi yang sedikit ‘aneh’ bagi saya di film ini, Rangga yang pernah memakai kostum Liverpool entah kenapa tiba-tiba menyebutkan CR 7 ketika menggiring bola.