Adakah Cinta di Madura?*

Standar

Saya terinspirasi untuk menulis ini dari tulisan Mas Alfred Pasifico yang menulis “Adakah cinta di India?”, dia mengutip kalau sebagian besar perkawinan di India berdasarkan perjodohan yang diatur oleh kedua orang tua dan semangat yang mendasari perkawinan tersebut banyak didorong oleh faktor ekonomi dan status sosial juga.

Sudah lebih dari 12 tahun (dan masih terus berjalan) saya tidak hidup di Madura, tempat saya dibesarkan, kerap kali saya bertanya pada diri saya sendiri alasan kenapa saya enggan untuk ke sana lagi, pertama, saya sudah tidak merasakan ‘rumah’ lagi di sana, kedua, saya hanya ingin melindungi diri saya sendiri dari masa lalu-masa lalu yang menohok yang diucapkan secara santai oleh orang-orang sekitar, saya cinta Madura, tapi saya tidak suka pengalaman masa lalu saya di sana, di sini, di tempat ini saya belajar memaknai kata “memaafkan” tanpa ada “permintaan maaf”, saya belajar memeluk diri saya, tapi sekali lagi ini tentang rasa yang tak bisa tergesa, meski telpon dari orang tua selalu mengundang ke percakapan-percakapan yang sengit.

Tentang perkawinan, sampai detik ini saya enggan untuk berkawin, musim kawin masih selalu milik orang lain, saya masih melakukan proses bersih-bersih, memori saya selalu berkata “tak ada cinta di perkawinan orang-orang Madura di sekitar saya” setidaknya begitu yang terekam dalam belief saya, perkawinan-pernikahan yang saya lihat selalu tampak transaksional, ada sebuah transaksi status sosial-religi di sana yang diatur oleh pewaris tradisi dan penjaga tradisi “orang tua”, berusaha untuk memperoleh pasangan secara independen berarti “penyimpangan”, ayat-ayat suci atau kutipan dari kitab-kitab klasik lalu dipakai untuk menghukum mereka yang menyimpang, saya mengerti salah satu alasan mendasar yang membenarkan penghukuman ini adalah “surga dan neraka” dan kelanggengan pasangan suami istri (mereka selalu berkata “toh dengan cara seperti ini perkawinan tetap langgeng dan kesempatan untuk berpisah sangat kecil”), dan kata-kata ” membuka aib” selalu dipakai untuk mereka yang mencoba bertutur dengan tulus.

Lalu saya berpikir, saya terlalu kecil untuk mengganti budaya sudah mengakar dan mendarah daging ini, adalah tindakan gegabah untuk bekoar-koar mengabarkan observasi rasa saya ini di depan publik, saat ini yang bisa saya lakukan adalah menghindar dan sembari mempersenjatai diri saya dari segala kemungkinan yang mungkin terjadi. [ dan tulisan ini pun mungkin bersambung dan mungkin juga tidak]

*Judul di atas saya pinjam dari salah satu judul cerita perjalanan di buku The Journeys 3, tulisan mas Alfred Pasifico.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s