Category Archives: Getaran Jiwa

Lahir Kembali [Reborn]

Standar

Saya lahir kembali di dunia blog setelah sekian lama hiatus dari ngeblog, dulu saya sampai pada titik jenuh saya dalam ngeblog, karena memang secara tidak disadari saya mengharapkan sesuatu dari ngeblog; kendati dulu2 nya berusaha menutupi keinginan alam bawah sadar saya itu, jadi akhirnya banyak sekali yang tertutupi.

Saya banyak mengalami, kekakuan ketika kopdar, saya merasa saya masih belum benar-benar cair dengan teman-teman blogger, masih ada kekakuan di situ, ada jarak-jarak aneh yang tidak terdefinisikan dengan log dalam blog.

Ya saya akan membuka diri, membuka kamar saya, membuka kasur saya yang berwarna coklat organik; saya ingin menjadi sumur yang bisa ditimba setiap saat, saya ingin menjadi buku yang terbuka lebar yang siap dibaca oleh siapa saja.

Inilah saya. (baru di updated setelah sekian lama)

Ada bola di sarungku!

Standar

Saya belum menonton film Garuda di dadaku itu, film yang katanya menggugah rasa nasionalisme itu.Tapi sejenak saya melihat poster film itu membangkitkan kenangan lama saya di pesantren, sewaktu masih aktif bermain bola di lapangan alun-alun guluk-guluk sana.

Waktu itu impian lama saya untuk menjadi seperti Roberto Baggio atau David Beckham selalu saja terbentur dengan sebuah keharusan untuk ‘belajar yang baik dan duduk di bangku sekolah dan belajar kitab kuning’, ya orang tua selalu bilang main bola itu ndak hubungannya dengan masa depan atau akherat, dan teman-teman di sekitar saya juga bilang agar sebaiknya saya realistis saja bermimpi, jujur dulu saya sangat mengambil hati ungkapan orang-orang di sekitar saya itu, dan ketika saya bersembunyi saya ungkapkan kekesalan saya akan ‘mimpi terlarang’ itu!

Dulu saya memang tidak bisa bermain bola dengan baik, di kesebelasan lokal pun saya hanya ‘pemain bawang’ , saya di pasang karena hanya saya mempunyai posisi sedikit istimewa, dan mungkin penghibur, tapi jiwa raga saya waktu itu memang penuh bola – ini terjadi tepat setelah demam piala dunia ’94 di Amerika Serikat -.

Di pesantren, banyak sekali talenta-talenta berbakat yang menyembunyikan bakat nya di balik lipatan kain sarung yang melilit tubuh mereka, tapi entah mengapa talenta mereka menguap entah ke mana ketika mereka beranjak dewasa akhirnya mereka menganggap mimpi lama mereka hanya sekedar hobi saja – hobi yang untuk hobi -.

Dan akhirnya ada sebuah tanya; sarungan ndak boleh maen bola? sarungan ndak boleh jadi pemain bola? sarungan ndak boleh maen gitar? ah mungkin itu dulu, saya harap sekarang sudah beda seiring dengan ditekannya tombol sirine peresmian Jembatan Madura, semoga sedikit ada pergeseran dan gesekan atau bahkan tendangan!, ini bukan undangan, ini bukan himbauan, ini adalah paksaan untuk masa depan yang lebih baik!

Ada Puisi

Standar

Tak perlu kau merangkai kata-kata mutiara itu; peribahasa, puisi atau kata-kata entah yang lainnya yang membuat hati mendayu-dayu dan logika hanyut dalam buai; sebab namamu adalah puisi, mantra dan pesona, kau cukup menuliskan kata: “hi” lelaki itu sudah bisa hanyut dalam ekstase selama semalam suntuk.

[ah lagi-lagi curhat liyep-liyep, mereka bilang aku harus segera ‘menembak’, bagaimana aku bisa menembak? bekas luka lama masih nyinyir dan senantiasa berdendang: no one loves as a….. you’re only a little child!, saya tahu sampean sudah pasti bosan membaca curhat liyep-liyep ini, tapi saya masih belum punya apa-apa lagi selain itu di kepala saya, mohon dimaafkan ya]

Mari kita lanjutkan?

Standar

Mari kita lanjutkan postingan tentang curhat yang bikin liyep-liyep itu, penuh kata-kata puitik tentang bulan purnama, November yang hujan, perempuan yang bermandikan cahaya rembulan, bibirnya, bibirku dan bibirmu, romantika yang high schoolish dan keinginan memagutkan bibir yang menggebu-gebu hingga hasrat kangen yang menyesakkan setiap menjelang jam 09.00 malam hingga dini hari.

Mau dilanjutkan? Apa kamu suka? atau kau akan membiarkan aku menekan tombol-tombol angka di handphone dan melepaskan rasa yang liyep-liyep itu?

So what?

Standar

I even don’t know when it starts, it’s just ‘as it is’, comes when it comes. I even don’t where it starts, it came in the middle of nowhere there, far away there in India, in a space called ‘Maya’, it came from an ordinary conversation in bytes of nothing, even I didn’t know why I said ‘Yes’ for it. Since then the cliche words keep buzzing in my mind from time to time: I LOVE YOU as You ARE.

Bliss, happiness, rapture and fears comes on and off in my mind, they keep ask and interogate me; so what if you feel that? just release it! so what if you overwhelmed by this high schoolish romance in your 26th? so what if your lips still virgin? so what if you gaze to those Eyes behind glasses? so what if you feel Excitement every time She–the mother melancholia–comes in front of you?

Lady of Entah

Standar

Aku menyebutnya the Lady of Entah, perempuan yang menghadirkan obsesi entah sejak kapan dan entah di mana, obesesi,hasrat dan sentuhan itu hadir di tempat yang berbeda-beda, aku mendapatkan sentuhan itu nuuun jauuuuuuh di sana di tanah Hindustan, Andhra Pradesh, di sebuah pertengahan yang tak di mana-mana, di tengah oase jiwa.

Tak ada apa-apa saat itu, tak ada senyum, tak ada parfum, tak ada pelukan, tak ada mata melankolia itu, tak ada mind games yang membuat gelisah, yang ada hanya sebuah sentuhan dan rasa, sentuhan yang menarik diri untuk berkata: YA, sentuhan yang membuat diri membuat sebuah pengakuan pada ‘jiwa’ yang berada di sana. Ya nampaknya dia telah lama memanggilku, tapi mengapa baru di India sana aku bisa mendengar? lalu mengapa harus di bulan September? the Lady of Entah.

Another Mantra Script

Standar

Catatan kecil yang bermakna besar dari seorang teman ini begitu bermakna dan begitu membesarkan hati yang sedang galau, sederhana memang, tapi tulisan itu meletupkan cahaya lentera di tengah kegalauan ini.

photo-681

Aku tahu, memang semua ini begitu terlambat: semuanya datang di dua puluh enam, di mana usia dunia sudah mulai terasa menua anak manis itu datang kembali membawa high schoolish dream yang telah lama tertahan, rasa itu membuatnya kalut, ekstase, dan galau. Anak manis itu datang kembali padaku menagih sesuatu yang telah lama tertahan; obsesi sekaligus semangat dalam setiap nafasnya, sesuatu yang begitu klise dan purba, roh di setiap nafas: cinta.

Cinta; pernahkah kau membayangkan kawan? aku begitu kalut anak manis itu terus menerus meminta diriku mengeluarkan itu dari mulutku yang begitu kelu, setiap saat for God sake! Apa? mengucapkan cinta what the hell is that? Love is not hell my friend—, so far I feel NO ONE TEACHES ME how to do that, those who told me about it just the best actors! I don’t know how to do that.

Once upon a time: aku terus bertanya diriku, berusaha memahami diriku sendiri dan makin tak terpahami: now I’m in high schoolish romance in my 26th, installed with oedipus romantic love system —define ME NOW—, do I need to tell? Or Love just an action so we need to say nothing? I don’t know, let me recite my mantra again and again.