Tentang 3 Idiots

Standar

[repost dari notes di fb dan curipandang]

Pernah ngebayangin gak ada orang yang bertampang sekelas Shahrukh Khan, mengemudikan mobil sekelas ferari dan mengenakan pakaian berkelas tiba-tiba keluar dari mobil, mencari pojokan di jalanan dan tiba-tiba, yes! pipis di tengah jalan tanpa tedeng aling-aling!

Itulah obrolan yang saya dengar dari teman-teman PPI di India sewaktu saya berkunjung ke New Delhi pada tahun 2006 silam, yes incredible India!, yang saya lihat setiap sudut kotanya seakan mengahdirkan lawakan yang tak pernah habis dimakan waktu.

Kembali ke masalah pipis, ya pipis di jalanan merupakan salah satu penyakit sosial yang saya lihat begitu akut, bahkan sangat dihayati oleh sebagian besar masyarakat India, jadi kalau anda ke Delhi, naik bajaj, dan tiba-tiba sopirnya berhenti secara spontan di tengah jalan, jangan kaget, dan jangan berprasangka negatif dulu, bhai (abang) bajay itu hanya ingin menyalurkan hasrat yang sangat manusiawinya, pipis, ya kembali ke kasus di atas tadi, jangankan sopir bajay orang sekelas Shahrukh Khan pun bisa saja melakukan hal yang sama.

Potret patologi sosial yang bernama pipis sembarangan di jalanan ini digambarkan begitu jelas dalam film 3 Idiots garapan Rajkumar Hirani melalui seorang tokoh rekaan dalam film ini yang bernama Chatur Ramalingam, seorang tokoh yang telah mencapai capaian finansial yang cukup wah dalam hidupnya akan tetapi masih memiliki kebiasaan yang sangat purba, dan mengukur segala kesuksesan dengan nominal dengan kepemilikan.

Dari awal hingga akhir film ini saya merasakan ekstase yang luar biasa, nostalgia yang luar biasa saya seoalah dipanggil kembali ke tanah Hindustan mulai dari awal film suasana di Indira Gandhi International Delhi airport hingga ke daerah Shimla, potret kesederhanaan India, hey mulai dari surat izin penerbitan film yang sederhanya di ‘scan’ di awal film spontan langsung membuat saya tersenyum; yes ini India, dance and laugh like no one watching!

Yup, sosok Rancho dimainkan cukup apik oleh Aamir Khan, memerankan seorang ‘Guruji’, atau ‘Bhagavan’, seorang yang memiliki kekuatan kebijaksanaan yang luar biasa, ya di India memang banyak sekali orang-orang yang dianggap memiliki kekuatan supranatural dan bijak, saya bisa bilang the land of Gurus, begitu gamblang mengkritisi potret kompetisi yang tidak sehat di tengah-tengah masyarakat India khususnya dalam merangking kemampuan seseorang dari prestasi dan kemampuannya di dalam kelas/sekolah, bahkan situasi ini tergambar jelas di jalanan India, yang begitu jelas menitikberatkan betapa luar biasa pentingnya rangking tersebut di poster-poster dan billboard jalanan.

Kutipan menarik dari film ini? okey, apa lagi bukan jargon dari film ini: ‘All is well’, dalam film ini mantra ini begitu ampuh melawan tekanan mental yang dialami oleh seseorang, ini mengingatkan saya pada sebuah pepatah “My biggest enemy is myself”, mantra penenang jiwa yang begitu diresapi dalam film ini.

Berikutnya menyusul ucapan bijak dari Guruji Rancho Ranchodas, “Do what you love, and success will follow”, kutipan ini menggambarkan sebuah panggilan jiwa, kerinduan kepada aku yang sejati, dan semangat jiwa.

Oiya satu lagi, beberapa minggu yang lalu entah di sebuah blog saya membaca tentang bukunya Jack Trout yang berjudul “Differentiate or Die” yang salah satu poinnya adalah “being the first is part of differentiating”, ha ha ha professor ViruS juga tak ketinggalan memberikan sumbangsihnya dalam dunia marketing, BE the FIRST!, sang professor menjelaskan hal ini dalam pertanyaannya: “Siapa manusia pertama yang mendarat di bulan?”, spontan seluruh mahasiswa menjawab: “Neil Armstrong!”, lalu dia menambahkan, “lalu siapa yang mendarat di bulan setelah Neil Armstrong?”, tak ada satupun mahasiswa yang menjawab, sang professor pun menjelaskan, “orang-orang akan selalu mengingat yang pertama, maka dari itu jadilah yang pertama!”. Kendati begitu antagonistik perannya dalam film ini, sang professor yang sepengetahuan saya di film ini adalah rektor dari college di mana 3 Idiots kuliah, namun tetap di awal film dia menggambarkan sosok sederhana dan kebersahajaan masyarakat India, bayangkana mana ada di sini seorang yang sekelas “rektor” mau memakai sepeda atau skuter ke kampus?

Inilah film India pertama yang saya tonton di tahun 2010, secara keseluruhan film ini bagi saya layak mendapat 4 bintang dari 5 bintang, oiya terjemahan dobel di layar begitu mengganggu, maunya sih ngasih 4.5, but it’s ok lah fair enough, tapi mbok ya kenapa film ini cuma beredar di Blitzmegaplex saja ya?, akan lebih jika film ini lebih terpublikasi secara luas dengan cara yang halal, khususnya ke daerah-daerah pelosok sana, seperti Madura misalnya yang selama ini sepengetahuan saya suka film-film India itu.

Oh ya beberapa menit yang lalu saya baru sadar kalau film tersebut disutradarai oleh Rajkumar Hirani, sutradara yang sama dengan film Munna Bhai MBBS (2003), Lage Raho Munnabhai (2006) yang menceritakan tentang semangat Gandhi itu.

4 responses »

  1. aku nonton film ini TIGA kali dan tetep mewek hahahaha
    posting di blog ku juga karena begitu terkesan.
    film keren, penuh makna dan nilai2 kehidupan yg bisa memperkaya bathin.

  2. benar-benar film yang membuat segudang inspirasi dan semangat untuk terus belajar dan selalu berpikir positif terhadap hidup,,, aq sich ngasih 5 bintang dari 5 bintang untuk film ini,,, i like it!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s