Dzikir dan Shalawat

Standar

“Perbanyaklah berdzikir kepada Gusti Allah SWT, dan bershalawat kepada Kanjeng Nabi Muhammad SAW, serta bacalah ayat kursi sebanyak mungkin niscaya kamu akan selamat dunia dan akherat.” Itulah yang kerap kali dipesankan oleh bapak saya setiap kali saya hendak melakukan perjalanan panjang.

Memang, saya beberapa kali melakukan petuah beliau, memang tak sebanyak yang beliau pesankan, mohon dimaafkan, mungkin butuh kebersamaan, butuh pesta, butuh sebuah perayaan agar lebih intens dan khusyu’ melakukan dzikir dan shalawat itu. Ah sudahlah klise; semua itu kembali pada diri kita masing-masing.

Kurang lebih dari dua tahun terakhir ini ketika saya biasanya menghabiskan akhir pekan, saya seringkali melihat poster-poster dan banner berukuran besar di beberapa sudut lampu merah dan perempatan jalan, banner itu bertuliskan “Majelis Dzikir Rasullallah“, “Nurul Musthofa” dan beberapa poster dan banner yang sejenis, yang intinya menawarkan sebuah ruang bagi masyarakat metropolitan (?) untuk berdzikir dan bershalawat bersama di setiap malam minggu.

Tak lama setelah saya melihat poster-poster dan banner itu, iring-iringan konvoi manusia dengan kendaraan bermotor memenuhi jalanan kota, rata-rata mereka mengenakan pakaian berwarna putih dan memakai peci dan duduk dengan jumawa di atas kendaraan beroda dua, serta tak sedikit pula dari mereka yang menggendong anak-anak mereka. Konvoi ini persis seperti iring-iringan peserta kampanye pemilu.

Ya saya melihat cukup jelas di banner itu selalu dituliskan kalimat : kepada setiap peserta konvoi agar memakai helm dan taat berlalu lintas, okey baiklah, tapi saya cukup jelas sekali mendengar umpatan dari setiap pengguna jalan raya yang merasa hak-nya dikebiri ketika rombongan konvoi itu seenaknya bermanuver dan dengan tanpa dosa menutup jalanan hanya untuk konvoi mereka, dan terlebih mereka memakai jalanan publik untuk sekedar areal parkir kendaraan mereka. Lagi, mereka tampaknya lebih suka keselamatan berkendara mereka dilindungi oleh peci berwarna putih daripada memakai helm.

Apa iya dzikir dan shalawat mereka akan sampai pada Gusti Allah dan Kanjeng Nabi Muhammad? Lagi, sependek pengetahuan saya, selain menekankan pada ibadah ritual, Islam juga menekan titik penting hubungan dengan sesama. Lalu apakah Gusti Allah dan RasulNya akan senang dengan dzikir mereka sementara di sisi lain terdengar ungkapan kekesalan dari mereka yang dikebiri hak berlalu lintas nya? dan lucunya mereka yang berwenang mengatur arus lalu lintas sama sekali tak berdaya, mereka hanya bisa melambai-lambaikan tangan ke kanan dan ke kiri melihat konvoi ini bermanuver di jalanan. Wallahua’alam, semoga mereka yang punya otoritas penuh di jalanan dapat menjalankan tugasnya dengan lebih baik lagi serta tak pandang bulu.

Terlepas dari semua itu; fenomena konvoi dzikir dan shalawat ini bagi saya tetap aneh dan begitu ganjil, dan saya masih bertanya mainan apa lagi ini?. Wallahu’alam (lagi)

12 responses »

  1. umat beragama di Indonesia memang masih berada di tahap ritual, belum menerapkannya di kehidupan. Padahal penerapan itulah esensinya; hubungan vertikal-horisontal-diagonal.

  2. inilah gambaran orang indonesia, yang bisa menilai segala sesuatu dari sudut pandang negative, apakah anda pernah bertanya pada kelompok yang sedang konvoi tersebut kenapa melakukan hal tersebut, atau bertanya kepada petugas yang menurut anda diskriminatif kenapa sampai tidak menindak mereka, atau bertanya kepada penyelenggara kegiatan tersebut kenapa melakukan kegiatan/acara dengan peserta yang konvoi,

    Janganlah anda mengkerdilkan suatu usaha dalam pembenahan umat karena hal-hal yang tidak baik yang dilakukan segelintir orang yang berkonvoi dengan tidak baik dan melanggar aturan.(karena tulisan anda akan dibaca orang lain, dan mendorong orang lain untuk mempunyai pemikiran yang sama dengan anda)

    Lalu dengan sombongnya anda bertanya Apa iya dzikir dan shalawat mereka akan sampai pada Gusti Allah dan Kanjeng Nabi Muhammad?,fenomena konvoi dzikir dan shalawat ini bagi saya tetap aneh dan begitu ganjil, dan saya masih bertanya mainan apa lagi ini?. anda tidak akan mendapat jawabannya sampai kapanpun kalau anda tidak mengenal mereka lebih jauh.

    mereka punya website cobalah anda masuk kesana dan mengenal lebih jauh kegiatan dan aktifitas mereka, dan cobalah anda tanya kepetugas kenapa mereka yang melanggar tidak di tindak, saya rasa ini yang paling bijak yang harus anda lakukan sebelum berkomentar.

    • @Koezoet, terima kasih atas responnya,mas pada dasarnya tulisan ini adalah tidak lebih dari ungkapan ketidak nyamanan saya sebagai pengguna jalan yang terganggu dengan ulah oknum dari konvoi tersebut,jujur saya bersama ribuan pengendara lainnya sangat TIDAK NYAMAN dengan ulah oknum2 konvoi tersebut yang mengganggu para pengguna jalan yang lain.

      Saya pikir masih banyak usaha lain yang lebih arif untuk pembenahan umat dengan tidak mengganggu arus lalu lintas dan memonopoli jalanan secara semena-mena seperti yang mereka lakukan, saya sama sekali tidak berusaha mendorong orang lain untuk berpikiran sama dengan saya, kalaupun mereka mempunyai pandangan yang sama, saya berkeyakinan mereka mempunyai pengalaman yang sama dengan saya di jalanan.

      Saya sudah berkunjung ke website mereka, tidak ada yang aneh dan ganjil, cuma saya tidak sepakat dengan tindakan mereka yang memonopoli jalanan dan mengambil hak pengguna jalan yang lain dengan mengatas namakan Gusti Allah dan Kanjeng Rasulallah

  3. iya kang, kalau berlebihan gini juga pasti akan merugikan banyak pihak. dan saya juga kurang sepakat kalo sampe ngajak anak2 dan bayinya turun jalan. masih ada cara lain yg juga bagus untuk mengagungkan asma Allah dan nabiNya saya rasa

  4. Pada dasarnya semua Agama tidak pernah mengajarkan segala sesautu yang tidak baik, dan Agama tidak pernah salah namun yang salah adalah ‘oknum’ yang menyalah gunakan Agama untuk melakukan sesuatu yang mereka anggap benar. Karena ulah beberapa ‘oknum’ inilah yang terkadang membuat image dari perbuatan mereka disamakan dengan ajaran Agama tersebut.

    Saya hidup bersosial, dan salah satu takdir saya adalah untuk beribadah kepada ALLAH SWT. Disamping saya hidup berkewajiban menjalin hubungan vertikal dengan ALLAH SWT (Hablum Minallah), yaitu untuk selalu menjalankan perintahNYA dan menjauhi laranganNYA. Dalam hidup bersosial ini kita juga harus menjalani hubungan yang baik antar manusia (Hablum Minannas), saling tenggang rasa, hormat menghormati.

    Dalam menjalani hidup ini, kita harus melakukan kedua hubungan itu dengan sungguh-sungguh. ALLAH tidak akan memuliakan orang yang hanya berhubungan dengan ALLAH saja, tetapi dengan sesama manusianya tidak memiliki hubungan yang baik. Allah pun juga tidak akan ridho kepada orang yang tidak mau berhubungan dengan ALLAH, walaupun dia berhubungan dengan baik dengan sesama manusia.

    Jadi seimbangkan antara Hablum minallah dan Hablum minannas…

    Wallahu a’lam..

    Wassalam,

    – Rindang –

  5. Tulisan yang cukup kontemplatif Mas…..terkadang sangat disayangkan….niat baik dikotori tindakan yang mengundang cercaan orang lain (tidak mengikuti peraturan lalu lintas, berkonvoi yang tidak semestinya)…..agaknya perlu diingatkan agar niat baik itu tidak “mengganggu” kepentingan orang lain…..nice posting anyway

    Donny Oktavian
    www,manuverbisnis.wordpress.com

  6. Assalamu’alaikum,

    Kita sebagai umat islam disuruh bershalawat kepada Rasulullah,

    Rasulullah juga sudah mengajarkan bagaimana cara kita bershalawat,

    Semua shalawat yang diajarkan oleh Rasulullah bisa dibaca ketika kita shalat, ketika membaca doa sewaktu tahiyat,

    Dan shalawat selain yang diajarkan oleh Rasulullah adalah hanya membawa kita kepada murka Allah, dan penyebab kita tidak bisa minum dari telaga rasulullah, karena itu adalah termasuk amalan yang tidak ada contohnya, terlepas siapapun yang membuat shalawat tersebut….

    bagaimana sih shalawat yang diajarkan Rasulullah?? bisa dibaca disini: http://aslibumiayu.wordpress.com/2010/06/11/bagaimanakah-lafadz-cara-dan%c2%a0waktu%c2%a0untuk%c2%a0bershalawat/

    Dan janganlah kita menyampaikan suatu amalan ibadah yang tidak ada contohnya dari Rasulullah, sebab ancamannya sangat besar, karena sama aja dengan berdusta atas nama Rasulullah, bisa dibaca disini:

    http://aslibumiayu.wordpress.com/category/dusta/

    Sudah selayaknya sebagai sesama muslim saling nasehat-menasehati dalam kebenaran dan kesabaran,

    Mohon maaf sekiranya nasehat saya ini kurang berkenan dihati anda,…..

    Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s