Ilusi Negara Islam; Bahaya Laten Gerakan Islam Garis Keras

Standar

4185_1053296181425_1496418608_30120459_1855931_n
Hari sabtu (16/05/2009) kemarin atas undangan sahabat-sahabat dekat saya, saya berkesempatan mengunjungi sebuah peluncuran buku yang saya tunggu-tunggu.

Saya begitu gregetan menunggu kehadiran buku ini, dan gemes untuk melihat reaksi mereka orang-orang radikal yang barbar itu, dan akhirnya buku itu pun diluncurkan kemarin dengan judul ILUSI NEGARA ISLAM, sebenarnya jujur saya mengharapkan buku ini hadir dengan judul greng seperti yang pernah saya dengar sebelumnya: BAHAYA LATEN NEGARA ISLAM.

Ya kenapa tidak? hampir sebagian besar buku hasil penelitian kerjasama antara The Wahid Institute, Gerakan Bhinneka Tunggal Ika, dan Maarif Institute ini menyingkap asal muasal dan gerak denyut kelompok Islam garis keras yang berasal dari gerakan Wahabi yang berasal dari sebuah daerah di Saudi Arabia, penetrasinya ke dalam dunia politik praksis yang mengusung negara Islam dan Khilafah Islamiyah yang sebenarnya sama sekali tidak mempunyai landasan teologis dalam Islam, metamorfosa dan perkawinan gerakan ini dengan berbagai gerakan-gerakan Islamis seperti Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, serta infiltrasi mereka ke sebuah partai politik di Indonesia, siapa lagi kalau bukan PKS! yang jelas, sebagaimana diakui sendiri oleh Anis Matta salah satu pendirinya terinspirasi dari gerakan Ikhwanul Musliminnya Hasan Al Banna, yang mana gerakan tersebut merupakan organisasi terlarang di negara asalnya sendiri.

Again, buku ini menyingkap beberapa fakta unik yang belum saya ketahui sebelumnya di antara lain: mengungkap benang merah pertalian gerakan Padri yang dikomandoi oleh Tuanku Imam Bonjol dengan gerakan Wahabisme di Saudi Arabia, dan tragedi pendudukan berdarah di Mekkah yang sangat jarang diekspos di berbagai media.

However buku ini adalah pemicu buat kita agar lebih aware terhadap gerakan Islam garis keras, sisi positif dari buku ini selain menyingkap asal muasal gerakan Islam garis keras, buku ini juga menawarkan sebuah alternatif gerakan Islam senyum yang ramah di muka bumi, rahmatan lil alamin, saya yakin buku ini akan menjadi pemicu hadirnya wajah Islam yang lebih ramah. Oya buku ini duluncurkan dengan videonya loh.

Mau tahu isinya lebih lanjut? baca sendiri ya, bukunya tebel lohh. BISA DI DOWNLOAD DI SINI

[Enough about the book and its video, however I ate a lot of food in the hotel😀 , and met some old friends including my uncle, ho ho ho, it’s absolutely a coincident to meet them actually, and I feel so blessed to be among Indonesian begawan: HE.KH.Abdurrahman Wahid, Gus Mus and Buya Syafii Maa’rif, I’m so grateful, I really feel the positive energy from them]

*foto diambil dari Fesbuknya temen.

11 responses »

  1. btw bukunya lumayan sedikit seriyus, ada gak edisi yang lebih nyaman untuk khalayak banyak ya? atau media komik gitu? secara BUKU ini layak untuk dibaca dan perlu, khususnya untuk kalangan takmir mesjid yang khutbah jumat-nya penuh dengan ajakan perang.

  2. Saya prihatin dengan penerbitan buku seperti ini. Tema yang diangkat sudah basi. Ini tema tahun 50-an, ketika kita polemik soal “negara islam” di Konstituante. Ini pasti tema pesanan “Yahudi” Amerika untuk memecah belah umat Islam.
    Buatlah buku yang kreatif soal pembangunan Islam, pendidikan Islam or teknologi Islam. Kenapa harus terus mempersoalkan pro-kontra negera Islam, Islam fundamentalis, Islam ektrim,…. masih kurang puas apa ngobok-obok Islam.
    Wahai Gus Dur, Syafei Ma’arif, Gus Mus …. cukup sudah umat ini ente adu domba…, biarlah umat ini menentukan jalannya sendiri untuk memilih yang terbaik masa depan mereka. Islam itu bukan cuma NU dan Muhammadiyah, Islam itu luas……… apakah orang yang meninggalkan NU or Muhammadiyah berarti dia meninggalkan Islam… picik sekali anda-anda ini!!!!! Lebih picik lagi, Anda mencap orang yang lari dari NU dan Muhammadiyah dianggap ekstrim, fundamentalis, teroris,…. bahkan murtad. Wow…..

    • @Ibnu Arman, okey sampean sah-sah saja untuk prihatin, bikin riset saja selama dua atau sepuluh tahun lalu bikin buku untuk mengcounter isu dalam buku ini, itu baru fair, jangan main teror penerbit buku segala, bukankah Islam rahmatan lil alamin mas?

      Yahudi? baca dulu mas bukunya baru komentar, gratis kok bisa didownload, pendidikan Islam? teknologi Islam? oh okey sampean bikin saja internet islam😀,

      Tidak usah membawa nama-nama beliau, mereka adalah BEGAWAN BANGSA INI, karena merekalah sampai detik ini saya bangga menjadi seorang muslim, saya sepakat Islam itu luas, dan muslim juga beragam; semuanya tujuannya cuma satu ridha Allah (dan tak seorang pun yang berhak mengkafirkan atau berhak menjadi juru bicara Allah di muka bumi ini kecuali Kanjeng Nabi Muhammad SAW), dan mengutip ungkapan dari Gus Mus, hanya kebenaran Allah yang benar-benar benar.

      Mencap murtad? ah sudahlah mas sampean baca dulu bukunya baru komentar dengan pikiran jernih dan hati yang tenang, jangan terburu nafsu belaka.

      Ihdinasshiratal mustaqiiim…

  3. baca dengan pikiran dan hati nurani yg jernih, jngn gampang diprovokasi yg mengadu domba

    KETERANGAN PERS:
    Bantahan Hizbut Tahrir Indonesia Terhadap Buku Ilusi Negara Islam

    Buku Ilusi Negara Islam: Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia, yang diluncurkan beberapa waktu lalu itu sebenarnya tidak layak dibaca apalagi ditanggapi. Meski diklaim sebagai karya ilmiah, dan konon merupakan hasil penelitian selama dua tahun, namun semuanya itu tidak bisa menutupi fakta, bahwa buku ini sangat tidak ilmiah dan jauh dari obyektivitas sebuah penelitian. Alih-alih bersikap obyektif, buku ini justru dipenuhi dengan ilusi, kebencian dan provokasi penyusunnya. Inilah yang mendorong kami untuk menanggapi buku ini, khususnya yang berkaitan dengan Hizbut Tahrir, sebagai berikut:
    Dari aspek metodologi: Pertama, dari sisi referensi: Buku ini sama sekali tidak menggunakan referensi utama (primer), yaitu buku-buku resmi Hizbut Tahrir. Satu-satunya referensi resmi yang digunakan adalah booklet Selamatkan Indonesia dengan Syariah, itu pun tampaknya hanya dicomot judulnya. Selebihnya, pandangan dan sikap penyusun buku tersebut tentang Hizbut Tahrir didasarkan pada kesimpulan-kesimpulan yang dibangun oleh Zeno Baran dalam bukunya, Hizb ut-Tahrir: Islam’s Political Insurgency (Washington: Nixon Center, 2004) dan Ed. Husain dalam bukunya, The Islamist (London: Penguin Books, 2007). Mereka tidak tahu atau pura-pura tidak tahu, bahwa baik Zeno Baran yang berdarah Yahudi maupun Ed. Husain adalah sama-sama bukan orang yang ahli tentang Hizbut Tahrir. Ed. Husain yang diklaim sebagai salah seorang pimpinan Hizb terbukti bohong, yang memang sengaja dibangun untuk menunjukkan kredebilitas karyanya, yang sesungguhnya tidak kredibel. Dari sini saja, sebenarnya cukup untuk membuktikan, bahwa buku Ilusi Negara Islam ini sebenarnya tidak ilmiah dan jauh dari obyektivitas. Karena itu, kesimpulan-kesimpulan yang dibangun di dalamnya tidak lebih dari ilusi penyusunnya. Bahkan, buku ini juga sangat narsis, karena kebencian dan provokasi yang ditaburkan di dalamnya mulai dari awal hingga akhir. Tampak jelas, bahwa buku ini disusun dengan target, bukan sekedar untuk mengemukakan pandangan, tetapi untuk memobilisasi perlawanan.
    Kedua, cara menarik kongklusi: Kongklusi di dalam buku ini banyak ditarik dengan menggunakan analogi generalisasi (qiyas syumuli), sehingga menganggap semua kelompok dan organisasi yang nyata-nyata berbeda, seperti DDII, MMI, PKS dan HTI sebagai sama. Ini adalah bukti, bahwa buku ini tidak obyektif. Lebih-lebih ketika, sejak pertama kali, penyusun buku ini sudah melakukan monsterisasi terhadap Wahabi, kemudian mengeneralisasi bahwa semua organisasi Islam yang tidak sepaham denganya dicap Wahabi. Ini jelas merupakan kesalahan berpikir yang sangat fatal, dan kalau tujuannya untuk mengungkap kebenaran, maka cara-cara seperti ini tidak akan pernah menemukan kebenaran apapun.
    Ketiga: inkonsistensi cara berpikir: Buku ini menyerang cara berpikir literalisme tertutup, tetapi pada saat yang sama penyusun buku ini menggunakan teks hadits, dengan makna literal, dan sangat tertutup, karena tidak mau melihat nas-nas yang lain. Seperti, Umirtu an uqatila an-nas hatta yaqulu la’ilaha illa-Llah (Aku diperintahkan untuk memerangi manusia, hingga mereka menyatakan la’ilaha illa-Llah), yang kemudian ditafsirkan, bahwa ini tidak berarti boleh memerangi orang Kafir, karena tidak ada penegasan tentang keyakinan akan kerasulan Muhammad saw.
    Dari aspek isi: Buku ini menawarkan: Pertama, Islam yang toleran, tapi anehnya penyusunnya sendiri dengan sangat narsis tidak toleran dengan sesama Muslim, dengan terus-menerus menyerang mereka sebagai kaum literalis tertutup, dan stigma-stigma negatif lainnya. Di sisi lain, ketika mereka sendiri tidak bisa bersikap toleran terhadap kaum Muslim, mereka malah menyerukan toleransi terhadap kaum Kafir, dengan justifikasi bahwa mereka adalah Muslim juga. Malah, ayat dan hadits yang memerintahkan untuk memerangi mereka pun harus ditafsir ulang agar sejalan dengan maksud mereka. Jadi, nalar yang dibangun dalam buku ini jelas sekali, sangat tidak konsisten. Kedua, perdamaian dan Islam yang damai, tapi penyusun buku ini justru menyulut bara api yang sudah padam, seperti sejarah kelam Khawarij dan Wahabi yang sudah dilupakan oleh kaum Muslim. Dalam kasus Wahabi, jelas sekali bahwa ini dimaksud untuk mengadudomba antara NU dan kelompok lain yang dicap Wahabi, karena generasi tua NU memiliki memori yang tidak baik terhadap Wahabi. Lalu, di mana wajah Islam damai yang mereka tawarkan? Cara-cara yang mereka lakukan ini persis seperti yang dilakukan oleh Syasy bin Qaisy, penyair Yahudi, yang mengingatkan kembali permusuhan antara suku Aus dan Khazraj dalam Perang Bu’ats. Kalau betul mereka menginginkan perdamaian, mestinya bisa bersikap seperti ‘Umar bin ‘Abdul Aziz ketika ditanya tentang Perang Shiffin, dengan tegas beliau menyatakan, “Ini adalah darah yang telah dibersihkan oleh Allah dari tanganku, maka aku tidak ingin membasahi lidahku dengannya lagi.” Ketiga, ilusi, kebencian dan provokasi: Meski konon merupakan hasil penelitian, tetapi penyusun buku ini tidak bisa membedakan antara fakta dan ilusi. Sebagai karya ilmiah, seharusnya buku tersebut jauh dari kebencian, dan apalagi provokasi yang sangat narsis. Karena itu, isi buku ini akhirnya terjebak pada kepentingan sponsornya, dan sama sekali jauh dari obyektivitas ilmiah, lazimnya sebuah karya ilmiah.
    Dari aspek penyusun dan penerbitnya: Sebagaimana diakui oleh Abdurrahman Wahid, buku ini adalah hasil penelitian Lib-ForAll Foundation, sebuah LSM yang memperjuangkan terwujudkan kedamaian, kebebasan dan toleransi di seluruh dunia. Abdurrahman Wahid bersama C. Holland Taylor bertindak sebagai pendiri bersama, sementara bersama-sama KH A. Mustofa Bisri, Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif, Por. Dr. M. Amin Abdullah, Prof. Dr. Azyumardi Azra, Porf. Dr. Nasr Hamid Abu-Zayd, Syeikh Musa Admani, Prof. Dr. Abdul Munir Mulkhan, Dr. Sukardi Rinakit dan Romo Franz Magnis Suseno menjadi penasehat LSM tersebut. Mereka selama ini dikenal sebagai tokoh Liberal. Bersama sejumlah peneliti lapangan, mereka menyusun buku Ilusi Negara Islam ini, yang kemudian diterbitkan bersama oleh the Wahid Institute, Maarif Institute dan Gerakan Bhineka Tunggal Ika. Lib-ForAll Foundation sendiri bermarkas di AS, dan didirikan pasca peristiwa 11/9, dengan tujuan untuk memerangi apa yang mereka sebut Radikalisme Agama. Tokoh-tokoh Lib-ForAll Foundation di Indonesia juga mempunyai hubungan baik dengan Israel, dan sangat membela kepentingan entitas Yahudi itu. Sebaliknya, mereka selama ini dikenal bersikap sumir terhadap syariah, formalisasi syariah dan kelompok Islam yang memperjuangkan syariah.
    Adapun tuduhan terhadap Hizbut Tahrir sebagai kelompok yang membahayakan Indonesia, adalah sebuah kebohongan besar. Hizbut Tahrir dengan perjuangan syariah dan Khilafah justru bertujuan untuk menyelamatkan Indonesia dari keterpurukan akibat Sekularisme, Liberalisme, Kapitalisme dan penjajahan modern di segala bidang.
    Sebaliknya, Liberalisme dan Sekularisme yang selama ini mereka propagandakan itulah yang telah nyata-nyata merusak dan menghancurkan Indonesia. Atas dasar Liberalisme pula, mereka mendukung aliran sesat (Ahmadiyah, Lia Eden, dll), legalisasi aborsi, menolak larangan pornografi dan pornoaksi, mendukung penjualan aset-aset strategis. Maka, merekalah yang sesungguhnya harus diwaspadai, karena mereka menghalangi upaya penyelamatan Indonesia dengan syariah, dengan tetap mempertahankan Sekularisme dan penjajahan asing di negeri ini.

    Wassalam,
    Jurubicara Hizbut Tahrir Indonesia
    Muhammad Ismail Yusanto
    Hp: 0811119796 Email: Ismaily@telkom.net
    ( sumber : keterangan pers Nomor: 161/PU/E/05/09Jakarta, 25 Mei 2009 M/30 Jumadil Awwal 1430 H)

  4. zeen, usaha membangun negara dgn basis agama manapun pasti ada di mana2, kalo tulus dan serius (sejalan dgn nafas agamanya) itu bagus. prakteknya lebih banyak cuma buat kamuflase duniawi…konyol banget

  5. Salam kenal Mas Wazeen,
    Saya masih berharap banyak terhadap organisasi NU dengan core organisasinya yang toleran, moderat, dan berimbang, sebagai garda terdepan dalam menjaga keutuhan bangsa ini. Memang akhir2 ini NU seperti ketularan Islam mazhab hardcore seperti kasus pengharaman Facebook, tapi saya yakin masih banyak Kyai NU yang punya pandangan bijak sebagaimana pendirinya Hadlatusy Syaikh Hasyim Asy’ari.

    Itu saja harapan saya bahwa kerendahan hati dan menebar kasih kepada sesama manusia, apapun agama dan kepercayaannya adalah kewajiban kita smeua.

  6. salam kenal buat mas Wazenn

    Imam Turmudzi, Abu Dawud dan Ibn Majah, masing-masing dalam kitab Sunan-nya meriwayatkan hadits tentang penggolongan umat Islam menjadi 73 (tujuh puluh tiga) golongan atau firqoh, dan hanya satu golongan di antaranya yang selamat dari ancaman siksa neraka, yaitu golongan yang konsisten pada ajaran Nabi Muhammad SAW dan para Sahabatnya (Jama’ah) atau yang kemudian disebut dengan sebutan Ahlussunnah wal Jama’ah. sekarang banyak berdalih agamis tapi cuma sebagai hiasan mata saja.

    salama kenal mas

  7. waspada antek zionis kembali bergentayangan, buku ilusi negara islam diluncurkan untuk menhambat laju perkembangan islam.

  8. Saya sih bangga dengan keislaman saya tetapi bukan karena Gus Dur, Gus Mus atau Buya Ma’arif. Cukuplah syahadatain menjadi sumber kebanggaan saya.

    Saya belum membaca bukunya walaupun sudah mengunduhnya tiga mingguan lalu. Yang menghalangi saya membaca justru karena salah satu penerbitnya adalah Wahid Institute.

    DDII, MMI, dan PKS belum memberikan bantahan di blog ini. Mungkin karena belum atau merasa tidak perlu memberikan bantahan karena memang buat saya alih-alih menyerukan perdamaian, buku itu sepertinya justru berhasil menyebarkan kebencian seperti pengantar Gus Wazeen dalam menyatakan kegemesan untuk melihat reaksi para radikal dan barbar.

    Sependek yang saya tahu, belum pernah ada tindakan radikal dan barbar yang dilakukan oleh PKS atau Hizbut Tahrir sampai saat ini. Khusus Hizbut Tahrir, saya amati mereka konsisten dengan pemikirannya mengenai khilafah. Menurut saya, pemikiran mereka tidak radikal. Itu pemikiran konvensional. Yang radikal justru pemikiran Islam Liberal. Golongan yang terakhir ini memang pandai mengemas pemikirannya yang radikal dengan tingkah laku manis dan seolah-olah penuh kedamaian. Padahal, pemikiran yang mereka bawa sangat radikal dan menurut saya justru berbahaya. Adanya Hizbut Tahrir menjadi penyeimbang dalam ghazwul fikr yang dilakukan Islib sehingga orang dapat mempertimbangkan dengan lebih jernih pemikiran mana yang benar-benar benar.

    Saya sendiri berprinsip Pancasila dan NKRI untuk negara ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s