MU, Fanatisme dan Romeo & Juliet-nya Bang Ucup

Standar

Kalau kamu bertanya apa yang kerap kali membuat saya tidak telat solat subuh di kala fajar menjelang? Jawabnya cuma satu: Liga Champions! Manchester United VS bla bla bla

Lalu kalau kamu bertanya apa yang membuat saya otomatis terjaga di malam hari tanpa harus menyalakan alarm? Liga Champions dan Manchester United pastinya!

Lagi masih mau bertanya pada saya? apa yang membuat kamu begitu bersemangat dan bergairah? yeah gol-gol indah Ji Sung, CR 7, dan sorak sorai Mbah Fergie menyambut kemenangan United.

Lalu mana sisa emosi saya untuk PSSI dan klub lokal? ah lupakanlah, ah prestasi timnas masih begitu buram, tak ada yang bisa diharapkan, lalu klub lokal? Persebaya? bukankah kamu orang Jawa Timur seharusnya kamu Persebaya dong? tidak, saya ndak pernah ngefans pada klub Surabaya yang satu itu, saya lebih terikat secara emosional ke klub sekota-nya Mitra Surabaya (dulunya Niac Mitra), tapi entah kemana klub itu lenyap ditelan waktu, sekarang emosi saya datar-datar saja pada klub-klub lokal yang ada, even Persebaya, saya bukan benar-benar orang Jawa Timur, saya orang Madura!

Tentang Romeo & Juliet versi bola Indonesia.

Daripada sebuah ‘film’ film ini lebih nampak seperti sebuah dokumenter tentang potret buram sepakbola di Indonesia, fanatisme yang over (ya saya sangat mengerti tentang semangat yang menggebu-gebu yang lahir dari si kulit bundar yang disepak itu), film ini sepertinya mau mengatakan sesuatu; ini loh sepakbola Indonesia dan fanatisme orang-orangnya -hingga makian eksentrik khas ‘kebun binatang’ juga ada dan menampilkan daftar panjang korban dari fanatisme ini di akhir tayangan-, dan juga menggambarkan jika Indonesia adalah pasar yang sangat-sangat potensial untuk industri bola, again nampaknya Bang Ucup belum bisa menghilangkan kesan ‘film dokumenter’ dari film ini, menurut saya film ini kurang lebih memiliki pesan yang sama dari film-filmnya yang sebelumnya; kesan yang yang sangat saya tangkap dari film ini–terlebih karena ~uniknya~ada teks bahasa Inggrisnya– adalah : ini loh sepakbola Indonesia, Industri bola yang sangat potensial!

Lalu polesan romantika di film ini? Rangga dan Desi? ah it’s very poor, — terlebih untuk pria idaman seperti saya😀 — , sekedar untuk pemanis jalannya ‘film dokumenter’ ini, sekedar pemicu dan pemanis buatan agar kedua belah pihak (Jakmania dan Persib) lebih seru bertarungnya di luar lapangan, but however pesan yang sangat positif dari film ini adalah bahwa memang harus ada sebuah ‘extreme surgery’ –dan film ini serta peristiwa yang terjadi yang diakibatkan oleh film ini, hemat saya adalah salah satu dari proses itu– pada karakter dan seluruh elemen sepakbola di Indonesia, ya adegan-adegan yang begitu barbar di film itu bagi saya seolah mengatakan pesan itu.

Film ini subyektif? ya! agak the Jakmania sentris, bayangkan begitu beraninya seorang Rangga seorang diri berjalan menuju ke sarang Viking, waw begitu gagah! kalau yang beneran mungkin gak ya?😀, ok however film ini so cool, two thumbs up untuk Bang Ucup, buat saya film ini dapet 2.5 bintang lah.

Lalu bagaimana dengan film bola selanjutnya? Garuda di dadaku? Let’s see then!

*Eh ada satu lagi yang sedikit ‘aneh’ bagi saya di film ini, Rangga yang pernah memakai kostum Liverpool entah kenapa tiba-tiba menyebutkan CR 7 ketika menggiring bola.

3 responses »

  1. Dulu pas lagi proses bikin film Romeo & Juliet, sempet ditawarin buat ikut jadi suporter Aremania, buat ngrame-ngramein. Tapi entah kenapa kok jadi.

    Betewe, all hail Red Devils!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s