Taksi Putih

Standar

Mari-mari kawan kita bercerita tentang obrolan-obrolan di taksi seperti di sana, taksi; kendaraan roda empat yang membuat kita serasa menjadi tuan untuk semalam, kendaraan alternatif paling akhir di malam hari hingga dini hari, kendaraan pemelihara aroma tubuh sekaligus penyesap isi kantong secara perlahan melalui kumparan putaran angka dalam meter. Perjalanan pun dimulai; hari ketiga berputar-putar di daerah Thamrin-Sudirman-Blok M- Ciputat.

Blok M; taksi putih bermerek Express itu menjadi pilihan lelaki itu di Selasa malam setelah pertemuan entah berantah dengan rekan-rekannya, taksi bermerek Express mirip seperti warna benda elektroniknya sekaligus relatif lebih lambat menyesap isi kantong.

Taksi: ke mana?
Saya: Ciputat
Taksi: Ciputatnya mana? Setelah pasar?
Saya: Sebelum pasar,
Taksi: Ooo universitas Islam Islam itu ya…
Taksi: Ya
Wajah sopir taksi itu terlihat murung dan lelah menanti™ penumpang.
Saya: Capek mas?
Taksi: Ya gmana lagi mas udah seharian, kelihatan banget ya?
Saya: Ndak pulang?
Taksi:Wah gmana lagi mas, belum dapet cukup dari tadi.

Wajah murungnya mulai mencair

Taksi: Asli mana mas?
Saya: Madura
Taksi: Maduranya mana?
Saya: Sumenep, yang paling ujung itu dan orangnya manis dan cakep seperti saya😀
Taksi: Madura masakan yang paling terkenal apa selain satenya?
Saya: Wah banyak mas, sayur kelor, bubur kacang ijo yang rasanya asin dengan ketupat, masih banyak lagi mas – bagaimana ngejelasinnya kuliner dari tempatku mempunyai nama-nama yang tak ada padanan bahasa Indonesianya –

Taksi: Kelahiran tahun berapa?
Saya: ‘82
Taksi: hmm berarti sekarang sudah 26, masih single?

Hmm bingung nyari jawaban….

Saya menjawab: lagi nyari mas
Taksi: Wahh jangan dicari mas, kalau dicari ya nggak ketemu-ketemu…
Saya: Lha gmana? Langsung nembak gitu?

Taksi: Yahhh nggak juga, gitu deh… maunya dari mana mas? Dari Madura juga?

Saya:Nggak, saya ingin anak saya jadi Orang Indonesia, Iya nih maunya sih nyari ***** ****** [censored]

Taksi: Ha ha ha
Saya pun menimpali; kan enak tuh sama-sama punya **** [censored] nah nanti kan bisa dicampur jadi enak kan? Rasanya nggak bikin bosen.

Taksi:Ah mas ini bisa aja…
Saya: Ngomong-ngomong mas ini asli mana?

Taksi:_________[extreme censored]

Saya: oooh pantesan, he he he.
Saya: Mas belok kanan di situ di ciputat molek minta tolong lampunya dinyalain mas.

Taxi paid

Taksi: Ok, sampai ketemu lagi di lain waktu
Saya: Okey, doain ya agar saya bisa dapet ***** ****** [censored]
Taksi: Ha ha ha, oke deh ntar saya doain dari jauh, wah jangan-jangan masnya udah ada yang dicari nih.

Saya pun mesem; ah mas bisa aja; saya pun kliyeng-kliyeng, klepper-klepper, kliyep-kliyep ndak jelas.

Taksi putih itu pun segera berlalu, Ok sampai ketemu mas, saya begitu senang setelah percakapan yang menghibur itu wajah sopir pak taksi itu sumringah, saya bersyukur ternyata keberadaan saya di dalam taksi itu bisa membuat pak sopir taksi itu tersenyum simpul dan saya pun bisa curcol.

One response »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s