Bulu bulu yang menari di atas bibirmu itu

Standar

Haruskah aku kembali menggambarmu sketsamu -dan bulu bulu tipis di atas bibirmu itu- di setiap gelisah di jam jam menjelang dini hari? atau di kala azan subuh di pagi hari? Memang tak harus sih, kau pun tak pernah mengharuskan, hanya saja kekuatan aneh itu terus memerintahku untuk terus menyerut neuron-neuron dalam imaji untuk mebentuk skesta bulu-bulu yang menari di atas bibirmu itu.I’m so desperate in need right now, situated in high schoolish romance, passionated with childhood dream, infected by oedipus syndrome, so how do I call it?

One response »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s