Mengecat Langit 2

Standar

Suatu sore di sebuah perjalanan menuju pantai. Di tengah-tengah jalanan bukit yang bergelombang, langit biru nampak begitu cerah mewarnai panorama di siang yang menjelang sore itu, laut pun yang mulai nampak mengikuti warna langit biru itu. Seluruh penumpang dalam kendaraan bersorak sorai girang pertanda beberapa saat lagi mereka akan segera tiba di tujuan: pantai. Aku duduk di samping temanku yang sibuk mengemudi kendaraan –bagiku duduk di samping pengemudi begitu menyiksa eksistensi, eksistensiku yang membentakku jika aku belum bisa menyetir mobil! Bahkan di usia yang sudah melebihi seperampat abad ini! – seseorang menyeletuk: waw biru ya langitnya, dan biru lautnya, aku pun menyeletuk juga: bisa ndak kita cat langit itu?, mereka yang di belakangku menyahut dengan penuh canda, bisa bisa bisa!, lalu aku jawab kembali, kalau bisa mau tak kasih warna apa?, mereka pun menyahut: PINK, ah gadis-gadis selalu warna pilihan utamanya yang itu.

Pantai: ada kenangan, nostalgia, wajah-wajah lama, pasir, muara, ombak yang tenang, bola, wajah-wajah kecil yang sudah mulai membesar, gocekan bola manis oleh seorang sahabat – ah seandainya dia bisa melesat jauh ke Inggris sana, aku yakin Sir Alex Ferguson akan lebih memilih dia sebagai starter utama ketimbang Cristiano Ronaldo, ah aku hanya bisa berandai – hening aku nikmati seluruh gelombang dan suara-suara yang dihembuskan pantai itu. Hening, aku kembali heningkan jiwaku dengan semua itu. Tak ada yang kulakukan kecuali menikmati, mengapresiasi dan mengunduh seluruh energi positif dari semesta di saat itu.

Meditasi di saat senja menjelang di pantai, pantai yang tenang dan tak berombak –ah aku mesti sadar ini bukan pantai Kuta atau pun Mahabaliphuram, dan di sini pastinya tak ada sumur bung! Ha ha ha – , beberapa saat lagi aku mengira langit pasti berwarna merah maroon atau oranye jeruk, warna-warna senjakala lainnya, dan Demi Tuhan, langit di sore itu benar-benar berwarna PINK! Ya PINK! Demi Tuhan apakah para gadis-gadis itu yang mengecat langit? Dengan kalimat-kalimat magis mereka? Koinsiden? Ah aku tak tahu, yang aku tahu di saat itu aku merasakan sebuah tarikan energi rindu yang begitu kuat dari kota raja negeri ini, tarikan dari sebuah eksistensi yang sedang berada di sana, eksistensi pernah aku candai, energi eksistensi itu seolah berkata: jangan main-main dengan setiap kalimat yang kau ucapkan? Apakah aku? Tak tahulah di tengah kegamangan aku panjatkan segenap mantra yang kumiliki. Om.Amin.Subhanallah. Praise to the Lord. Shalom.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s