Koinsiden I

Standar

Such a little coincident eh? I’m not sure, may be!

Itulah solilukui saya malam ini, setelah berjam-jam terjebak macet di jalanan menuju erport Soekarno Hatta dalam rangka menyambut teman dari Hindustan, dan penyesalan dan kegondokan saya terhadap kemacetan yang membuat saya nyaris frustasi karena tidak bisa dateng ke taman menteng, dan bertemu dengan mbak Dian barangkali? Apakah Dian Sastro Sempat Mampir ke Taman Menteng? saya ndak tahu, waktu dan ruang yang membatasi saya, ya saya berada di tengah-tengah kilometer 29 tol dr.Sediatmo.

Kilometer 29, Tol Sediatmo, Bandar Udara Soekarno Hatta,

Apakah itu polisi? ah itu bukan itu patung bisu sang Proklamator besar negeri ini, ia hanya membisu memandang rentetan mobil-mobil yang berjejelan di jalan tol? mas ini tempat parkir atau jalan tol ya?, ya hujan deras mengguyur Jakarta mas!, jalanan banjir dan bla bla bla, banjir? bukankah Jakarta sudah diserahkan pada pak kumis yang memang ahlinya? ah saya ndak tahu apa-apa mengenai hal ini.

Bis Damri pun bisu, yang ada adalah kenyataaan bahwa bandar udara ditutup selama 5 jam alias saya ndak bisa menjemput teman saya hari ini, momen ini sangat tepat untuk menghiasi suasana macet ini, ditambah dengan tas saya yang tidak membawa barang bacaan apapun, ditambah Nokia 3610 kesayangan saya yang minta minum terus, lengkap sudah! dongkol dengan stagnasi bung Damri itu pun berbalik arah kembali menuju bandar udara.

Dan suasananya biasa-biasa saja, sampai ada sesuatu…

Dulu namanya Santi, dan temannya Anna, Dulu banjir juga, Dulu kita juga jalan kaki dari Pondok Indah sampai Ciputat, Dulu juga macet total!

dan sekarang…

Sekarang namanya Rosyidah, Sekarang banjir juga, Sekarang kita berjalan kaki juga dari Kali Deres sampai Grogol, Sekarang juga macet total!

Koinsiden eh?

Setelah bung Damri memunguti penumpang-penumpang baru, bung Damri pun kembali melaju melalui ruas alternatif kali deres, via jalan panjang dan indosiar yang seperti kolam renang!

Suasananya biasa-biasa saja, seperti biasa di kala ada penumpang bis yang baru masuk, saya selalu berdoa agar di samping saya akan duduk makhluk-makhluk yang bagus, yang mungkin bisa saya ajak…. (ber-koinsiden eh?),

Dan doa saya terkabul!

Perkenalan ala penumpang bis pun terjadi, diawali oleh pertanyaan wajib: mau kemana? dan turun dimana?, betul teman! betul teman! betul teman! pertanyaan-pertanyaan idiot inilah yang membawa saya ke koinsiden yang membuat saya tak habis pikir itu! dan sedikit membuat kepala saya snut-snut! swear!,

Selama di bis, perkenalan biasa-biasa saja itu terus berlanjut, sampai akhirnya menjawab panggilan tilpun dan kemudian meminta tisu saya untuk menyeka air mata-nya, ya malam itu dia batal pulang karena ada penundaan jadwal penerbangan, dia mau menjenguk ibu-nya yang sedang dirawat. Anak yang baik, semoga dia memang orang baik. Saya masih tidak tahu namanya kendati telah berbicara bla bla bla, saya pun simpatikšŸ˜€, dan rasa sesal akan macet dan banjir pun mulai sirnašŸ˜‰ , malahan saya berdoa panjangkanlah macet ini he he he.

Bersambung ke Koinsiden II

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s