Kisah-Kisah itu…

Standar

Stop! Hentikan, sudah saatnya ngeblog yang mellow-mellow dan postingan yang menyimpan kasih-kasih terpendam itu, saatnya sekarang bernostalgia.

Setelah membaca blog bapak yang satu ini, dan membaca postingannya yang ini, saya jadi ingat petualangan-petualangan saya di negeri antah berantah, tapi jujur menyandang predikat “pernah ke luar negeri” sangat berat, betapa tidak semua orang pasti sudah berpikiran hidup saya udah adil makmur (kata orang madura: anaknya bermodel-model, emaknya dijemur), syukurlah semoga itu adalah doa yang manjur, ya, kebanyakan mindset teman-teman saya orang-orang yang sudah pernah naik kapal terbang ke luar negeri hidupnya sudah makmur, contoh-contoh yang ada adalah dosen-dosen di kampus saya, sekembalinya dari luar negeri mereka sudah mampu beli mobil dan hidup yang lumayan, mereka ndak tahu tahu saya ke luar negeri untuk apa.

Memang, saya pernah menjejakkan kaki di Kuala Lumpur dengan Petronas Twin Tower-nya, Bangkok dengan Khao San Road-nya yang 25 jam non stop itu, Aranyapratthet dan Poi Pet, Kamboja dengan Angkor Wat-nya, India dengan sensasi Taj-nya, Taiwan dengan menara 101-nya, Cina dengan Shanghai-nya yang gemerlap, atau Nippon dengan Tomato Sexy-nya yang membuat saya sangat berat (benar-benar berat) meninggalkan kota ini, itulah perjalanan saya sejauh ini, saya masih ingin melakukannya berkali-kali lagi, saya sudah teradiksi, bagi saya tak ada yang paling indah lagi di kota ini kecuali melihat paspor dengan visa negeri antah berantah, boarding pass di tangan, tas yang sudah rapi dan ber-tag.

Sensasi yang saya rasakan sewaktu naik ke atas kapal terbang adalah sensasi BEBAS , bebas, kosa kata yang paling saya sukai, betapa tidak, ketika berada di kabin pesawat saya merasa bebas dari segala kepenatan dan ketidak-bersahabatan negeri sendiri yang kerap kali membuat saya frustasi, tapi bagaimanapun juga saya tetap sangat cinta negeri saya. Bebas dari kepenatan bagi saya adalah kebebasan dari peluh dan hingar bingar macetnya jalanan Jakarta, menuju heningnya stasiun Chitose Funabashi di daerah Setagaya-ku, bebas melihat perempuan-perempuan kota Jakarta yang terkadang sok ngartis menuju Odawara yang tenang dan asri, bebas dari sapaan manis dan pesan-pesan moral dari Abah dan Umi: nak cepat wisuda nak, solat yang rajin, baca Qur’an yang rajin, jaga kesehatan, sikat gigi sebelum tidur, dan ndak usah pinter-pinter maen komputernya (tapi bukan ngeblog lho, mungkin ndak ngeblog ga’ pake komputer?), kapal terbang bermerek Malaysian Airlines itu membebaskan saya menuju negeri Matahari Terbit, dan lihat waktu itu saya disambut mesra oleh erotis-nya Gunung Fuji, ah saya merasa seperti Wiro Sableng dalam edisi: Pendekar dari Gunung Fuji, enak sekali menjadi Gaijin di tengah-tengah Nihon-jin. Setiap kali menjejakkan kaki di negeri antah berantah, saya bertereak dalam hati wooohooo saya sudah jadi turis!

Ah sudahlah, saya cuma turis pas-pasan, ya turis yang dirampok oleh imigrasi dengan biaya fiskal yang sangat mencekek leher bagi turis pas-pasan seperti saya, tapi untunglah masih ada teman-teman yang baik hati yang mendonasikan secara cuma-cuma buat saya, tapi tetap, biaya fiskal yang besarnya satu juta itu sangat menguras kantong saya. Ceritanya belum berakhir di fiskal itu, di kantor imigrasi negeri antah berantah pun saya di tatap mesra oleh petugas imigrasi gara-gara saldo uang saku yang saya bawa sangat tidak masuk akal bagi seorang turis, 15 dollar! untuk sepuluh hari di Tokyo yang meminta satu kali makan saja sekitar 850 yen, tapi untunglah orang-orang di padepokan saya yang satu ini membuat uang saku yang 15 dollar itu hanya menjadi jimat pusaka pamungkas saya, dan akhirnya setelah memberikan surat sakti berupa tiket return saya ke Indonesia tercinta, akhirnya tatapan mesra dari petugas imigrasi Nihon itu berakhir dan menyetempel paspor saya dengan sigap.

Perjalanan menuju negeri antah berantah selalu mengundang saya untuk lagi, lagi dan lagi terus, sensasi bebas dari perjalanan ke negeri antah berantah itu terus menggoda saya dengan seksi, seseksi Nona Tomato Sexy yang terus menggoda saya, saya ingin bebas, saya ingin bebas, dan saya ingin ke luar negeri lagi,

Tak usah kamu beri saya uang, atau mobil atau rumah, atau senyum sombong gadis-gadis ibukota, cukup selembar tiket dan paspor yang telah bercap, backpack yang rapi dan ongkos bis damri menuju Bandara Soekarno Hatta, ya itu sensasi-ku bebas, plong lalu Tomato Sexy yang menyambut dengan seksi di dalam taksi.

On the road again
Just can’t wait to get on the road again
The life I love is makin’ music with my friends
And I can’t wait to get on the road again
On the road again
Goin’ places that I’ve never been
Seein’ things that I may never see again,
And I can’t wait to get on the road again.

On the road again
Like a band of gypsies we go down the highway
We’re the best of friends
Insisting that the world be turnin’ our way
And our way
Is on the road again
Just can’t wait to get
ON THE ROAD AGAIN!

(Willie Nelson-On The Road Again)

*Untuk yang masih tersenyum buat saya: gomenasai TS-san, I’ve changed your name to Tomato Sexy.

7 responses »

  1. bebas dari sapaan manis dan pesan-pesan moral dari Abah dan Umi: nak cepat wisuda nak, solat yang rajin, baca Qur’an yang rajin, jaga kesehatan, sikat gigi sebelum tidur, dan ndak usah pinter-pinter maen komputernya (tapi bukan ngeblog lho, mungkin ndak ngeblog ga’ pake komputer?)…

    Hmm…begitu ya? hahahaha

  2. hahaha ya gitu deh…sama aja dengan saya yg dikira udah punya mobil hanya karna di paspor ada cap entry-exit imigrasi jerman, belanda, inggris, jepang dan sebagainya…

  3. @evan, hi hi ketahuan😀

    @kw, lembah baliem? kayaknya menarik tuh untuk tujuan selanjutnya, pake paspor ndak ya ke sana?😀

    @Nazieb,saya juga belum pernah juga mas.

    @Mbilung, iya saya kangen itu😀

    @rumahkayubekas, betul kang, saya pengen seperti itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s