Transeksualitas Jakarta alias Jakarta Remang-Remang

Standar

Kawan, kejadian yang ini bukan yang pertama, tapi kejadian ini membuat saya berkesimpulan kalau nuansa hutan rimba belantara di kota Jakarta makin meneguhkan keberadaannya di pagi-pagi buta.

Bagi saya, seorang pejalan profesional, dan pengejar kereta-kereta sewaan di malam hari hingga pagi hari, nuansa itu benar-benar saya hayati dengan harap-harap cemas, ya hampir bisa dipastikan kalau saya berkelana di kota Jakarta ini di malam hingga pagi buta, saya menemukan peristiwa-peristiwa aneh bin ajaib yang bikin merinding.

Bukankah masih banyak prajurit-prajurit republik ini yang berpatroli di malam hari?

Entah kenapa saya hanya percaya padaNya daripada prajurit-prajurit berseragam itu, saya cuma ada satu kesimpulan kecil yang terselip, ah mereka tak lebih dari sekedar pedagang!  mereka akan berekasi jika ada keuntungan yang bisa mereka peroleh, saya sadar ini manusiawi, prajurit-prajurit itu kan membeli pakean dan senjata mereka dengan susah payah, dan dari kisah-kisah tetangga saya, bahkan untuk sekedar menjadi prajurit republik mereka harus menjual ladang sawah yang telah diturunkan secara turun temurun, ya ya ya ya wajar sangat wajarlah kalau mereka pengen balik modal.

****Qziiiiiiiiinkkk….. ****

Dan dua kuda besi itupun melesat jauh meninggalkan saya di bilangan Sudirman, dengan harap-harap cemas saya membatin: ah semoga semuanya baik-baik saja.  Kereta-kereta sewaan itu masih belum muncul juga ,akhirnya, muncul kereta omprengan, yang berisi manusia dewa setengah dewi (semoga orang baik-baik), dan beberapa manusia-manusia aneh lainnya.

Dan meluncurlah kereta itu menuju kawasan blok M, kejadian biasa itu pun hadir, kereta omprengan saya, hampir saja bertatap muka dengan kuda besi, kontan penunggang kuda besi itu murka alang kepalang takut hidupnya direnggut kereta omprengan, ya ba bi bu penunggang kuda besi dan pak kusir pun terjadi, pak kusir pun  dengan iba meminta maaf dengan pasrah setelah ditowel-towel ndas-nya, dan syukurlah berakhir dengan damai.  Hey lihat di situ ada prajurit-prajurit! ah biasa kejadian orang sipil! biarkan saja.

Akhirnya saya memutuskan untuk meluncur ke Istana Ciputat tercinta dengan menaiki burung-burung biru yang berkepak di malam hari, Ciputat pun menyambut saya dengan semangkuk mie untuk disantap menyambut subuh, dan sang muazin pun kemudian berteriak lantang: Hanya Tuhan Yang Maha Besar. Terima kasih Tuhan, terima kasih papanya evan sudah memberi saya tumpangan.

5 responses »

  1. @caplang[dot]net, gw mendapat tatapan dan lirikan manis dari dia😀

    @adit-nya niez, he he he😀

    @mynameisnia, okey tinggal nunggu sutradara-sutradara yang baik hati datang menilpun saya, dan meminta saya menjadi artisnya he he he

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s