Medley dan Masa Lalu

Standar

Di sela-sela satu paket tas berisi brosur yang saya peroleh sewaktu menghadiri pesta blogger 2007, saya menemukan sebuah kartu yang bertuliskan medley; garis batas impian lelaki.

Saya menyebut kartu itu sebagai kartu undangan, sebab di dalam kartu itu tertera sebuah pertanyaan yang mengundang saya ke masa lalu dan fantasi.

Pada mulanya saya ragu untuk menghadiri “undangan” itu, sebab saya masih bingung bagian mana di masa lalu yang mesti saya ubah, dan saya sangat

Akhirnya saya memutuskan untuk hadir.

Dalam perjalanan imajiner saya menuju masa lalu, saya bertemu dengan orang-orang terdekat saya, orang tua, kerabat-kerabat dekat, teman-teman lama dan orang-orang terkasih lainnya wajah mereka nampak sayu dan datarsaya mendapati diri saya seperti musafir yang sedang kehilangan arah dan seperti Nobita yang terheran-heran ketika berkunjung ke masa lalu melalui mesin waktu dalam serial kartun Jepang Doraemon.

Ya saya melihat wajah mereka sayu dan ekspresi wajah yang datar, jauh di kelopak matanya saya melihat kerinduan dan ketakutan, kerinduan untuk berpelukan dan menyatakan cinta dan kasih kepada satu sama lainnya tapi mereka seakan terhalang oleh dogma-dogma yang mereka tidak mereka mengerti, dan saya pun diam dan lugu, terdengar suara aneh dari suatu sisi di ruang pikiran saya: “saya akan rubah itu semua!”, saya tahu mereka paham yang namanya cinta dan romantisme, tapi mereka ketakutan, karena dogma-dogma yang mereka pahami itu terlalu mencekam dan menakutkan.

Saya lafalkan mantra-mantra yang saya dapatkan di sebuah skriptur suci, dan kemudian dengan tubuh bergetar, akhirnya saya meneguhkan hati saya untuk menekan tombol yang bertuliskan “medley”….suasana hening dan senyap, suasana yang belum pernah saya rasakan selama ini, saya dengar sayup-sayup suara dua orang, lelaki dan perempuan, suara itu begitu belia.

“Mi, Abah cinta dan sayang sama Umi”
dan kemudian terdengar suara tangisan haru dan lirih.
“Abah?, ya Umi juga sayang dan cita sama Abah”

Saya-pun merasakan sensasi sejuk yang luar biasa, melebihi sejuk salju di pegunungan Himalaya, kesejukan ini memenuhi seluruh tubuh saya.

Dan tiit tiit tiit, handphone nokia hitam putih 3610 saya berdering, dan saya pun serta merta terbangun dan menjawab panggilan telpon itu, terdengar suara gadis di sudut telpon itu.

“Halo, selamat pagi ini benar Bapak Wazeen?”

“Ya, saya sendiri”, jawab saya

“Saya Finnie dari Maverick Indonesia,selamat Bapak mendapat sepasang tiket untuk menghadiri gala premiere pemutaran film Medley”

“Wah makasih banyak mbak, seneng banget nih”

“Baik bapak Wazeen,sekali lagi selamat ya,dan selamat nonton, terima kasih”, gadis diujung telpon itu menutup telponnya.

Sejuta sensasi perjalanan imajiner itu masih terasa, dan sejuta tanya masih tersisa, sepasang tiket? dengan siapa saya harus pergi ke sana? Dengan kamu?

***
Terima kasih sebesar-besarnya untuk http://medleymovie.blogspot.com/ , atas undangan ke masa lalunya dan inspirasinya, dan terima kasih yang tak berbatas kepada orang-orang terkasih atas inspirasi yang tiada henti. Salam penuh hormat dari Wazeen.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s