Kota yang hening sejenak
September 15, 2009
Persis! kota ini terlihat begitu indah ketika mengosong, ketika para penghuninya mulai menyerentak keluar dari dalamnya.
Lalu lintas busway yang melaju kencang di jalanan lengang, motor yang melaju begitu kencang di jalanan terbuka, ibu-ibu tua berkerudung penduduk pribumi yang mengomel di jalanan dan langit yang seolah terbuka lebar untuk sejuta harapan dan rencana.
Kebisingan itu seolah beranjak pergi untuk sementara, membiarkan kota ini untuk mengheningkan cipta sejenak, bercanda dan membelai mesra dengan para penduduk lokal yang telah lama ia abaikan.
Di hari yang suci itu, kota yang angkuh itu terdengar seolah berkata aku milikmu di hari ini! tapi tidak di hari yang lain, dan ia pun di hari itu seolah bersolek dengan hening, membuka jalan, membuka setiap jendela yang telah lama ia tutup dengan bising asap. Segar. Hening. Senyap dan Takbir!
Dan lagu Kina Grannis yang sekar-sekar basah melengung di telinga lelaki itu, “Stay Just a Little”.
Dzikir dan Shalawat
September 6, 2009
“Perbanyaklah berdzikir kepada Gusti Allah SWT, dan bershalawat kepada Kanjeng Nabi Muhammad SAW, serta bacalah ayat kursi sebanyak mungkin niscaya kamu akan selamat dunia dan akherat.” Itulah yang kerap kali dipesankan oleh bapak saya setiap kali saya hendak melakukan perjalanan panjang.
Memang, saya beberapa kali melakukan petuah beliau, memang tak sebanyak yang beliau pesankan, mohon dimaafkan, mungkin butuh kebersamaan, butuh pesta, butuh sebuah perayaan agar lebih intens dan khusyu’ melakukan dzikir dan shalawat itu. Ah sudahlah klise; semua itu kembali pada diri kita masing-masing.
Kurang lebih dari dua tahun terakhir ini ketika saya biasanya menghabiskan akhir pekan, saya seringkali melihat poster-poster dan banner berukuran besar di beberapa sudut lampu merah dan perempatan jalan, banner itu bertuliskan “Majelis Dzikir Rasullallah“, “Nurul Musthofa” dan beberapa poster dan banner yang sejenis, yang intinya menawarkan sebuah ruang bagi masyarakat metropolitan (?) untuk berdzikir dan bershalawat bersama di setiap malam minggu.
Tak lama setelah saya melihat poster-poster dan banner itu, iring-iringan konvoi manusia dengan kendaraan bermotor memenuhi jalanan kota, rata-rata mereka mengenakan pakaian berwarna putih dan memakai peci dan duduk dengan jumawa di atas kendaraan beroda dua, serta tak sedikit pula dari mereka yang menggendong anak-anak mereka. Konvoi ini persis seperti iring-iringan peserta kampanye pemilu.
Ya saya melihat cukup jelas di banner itu selalu dituliskan kalimat : kepada setiap peserta konvoi agar memakai helm dan taat berlalu lintas, okey baiklah, tapi saya cukup jelas sekali mendengar umpatan dari setiap pengguna jalan raya yang merasa hak-nya dikebiri ketika rombongan konvoi itu seenaknya bermanuver dan dengan tanpa dosa menutup jalanan hanya untuk konvoi mereka, dan terlebih mereka memakai jalanan publik untuk sekedar areal parkir kendaraan mereka. Lagi, mereka tampaknya lebih suka keselamatan berkendara mereka dilindungi oleh peci berwarna putih daripada memakai helm.
Apa iya dzikir dan shalawat mereka akan sampai pada Gusti Allah dan Kanjeng Nabi Muhammad? Lagi, sependek pengetahuan saya, selain menekankan pada ibadah ritual, Islam juga menekan titik penting hubungan dengan sesama. Lalu apakah Gusti Allah dan RasulNya akan senang dengan dzikir mereka sementara di sisi lain terdengar ungkapan kekesalan dari mereka yang dikebiri hak berlalu lintas nya? dan lucunya mereka yang berwenang mengatur arus lalu lintas sama sekali tak berdaya, mereka hanya bisa melambai-lambaikan tangan ke kanan dan ke kiri melihat konvoi ini bermanuver di jalanan. Wallahua’alam, semoga mereka yang punya otoritas penuh di jalanan dapat menjalankan tugasnya dengan lebih baik lagi serta tak pandang bulu.
Terlepas dari semua itu; fenomena konvoi dzikir dan shalawat ini bagi saya tetap aneh dan begitu ganjil, dan saya masih bertanya mainan apa lagi ini?. Wallahu’alam (lagi)
Baru menonton Cin(t)a
Agustus 21, 2009
Serentetan email menyenrentak bagaikan revolver dikotak inbox facebook saya, ah ternyata sebuah promo film, saya pikir undangan nonton film gratis, dem! ternyata cuma promo, dan judulnya sama sekali tak menyontek hasrat untuk menonton, pake branding cinta-cinta, jujur kalimat itu ketika diungkapkan secara berani dan terang-terangan somehow kelihatan fake.
Lalu kapan saya mulai berhasrat menonton film ini? ya rentetan messages adalah salah satunya tapi sama sekali bukan pemicu, dimulai dengan status seorang teman di facebook : “semua ribut mau nonton cin(T)a, untung gw udah nonton”, dimulailah pertanyaan itu apa sih untungnya? so what kalau udah nonton ini? mulailah saya mengecek di om Google, mulailah saya pasang status di facebook, menunggu respon dari teman, eh ternyata ada yang ngerespon, jadilah saya meniatkan diri untuk menonton, tapi saya sama sekali tidak ribut-ribut, just pengen nonton yang namanya film indie itu seperti apa that’s it.
Maaf mas yang jam 20.00 sudah penuh, adanya yang jam 21.45, tak apalah saya dan teman saya ambil yang jam segitu.
Oke saya datang ke ruangan tepat waktu pada jam 21.45 demi untuk tidak melewatkan adegan sedetik pun, tapi lohh? serentetan extra ads menyerentak cukup lama dan SANGAT membunuh waktu, membuat saya berpikir apa iya yang namanya film indie itu mesti banyak iklannya? atau yang banyak iklannya cuma di blitz aja? secara di 21 setahu saya iklannya gak sebanyak itu.
Oke oke oke, mari menonton; secara garis besar saya mengerti film ini berusaha untuk mengangkat tema-tema pluralisme dan romantika, plus kritikan centil nan nyentil untuk sistem negeri ini, ya semua itulah menurut saya yang membangun semua dialog-dialog intelek nan filosofis yang diramu dengan lompatan-lompatan aneh teori-teori Newton, hmm dialog? wait, somehow (sebagai pria Idaman) saya melihat dialog-dialog yang ada di film itu tak lebih dari sekedar teknik-teknik flirting saja.
Dialog-dialog yang terkesan smart dari awal hingga akhir film menurut hemat saya jelas mau menyampaikan pesan dialog interfaith yang dikemas dalam kisah romantika tragik, ya dialog yang disampaikan dengan bibir dan tatapan penuh makna (ah gw banget
) , tapi kenapa ya unsur tragik dalam film ini kelihatan seperti “sinetronish”, yang membuat cewek yang duduk di samping kanan sayah sesenggukan pas di akhir-akhir film (ah saya jadi yakin pasti sebagian besar cewek akan tesedu-sedu mellow ndak jelas gitu sehabis nonton film ini, ah sudahlah…).
Okey let’s just wrap up!
Aktornya? ah bolehlah, fair enough,
Background nya? kampus ITB ini yang menarik buat saya, saya pernah tinggal di dekat kampus itu, jujur saya sangat appresiatif dengan sambutan hangat teman-teman di sana sewaktu saya berkunjung ke sana, cuma saya sedikit tersiksa dengan kewajiban solat lima waktu secara berjamaah di masjid salman itu, ah bolehlah sebagai tamu saya harus berlaku sebagai tamu, bukan sebagai tuan rumah
, dan para perempuan extreme jilbaber yang berseliweran di mana-mana, padahal notabene ini bukan kampus Islam, aneh, saya juga sangat mafhum ungkapan yang diucapkan oleh Cina di film ini, “katanya yang mengucapkan selamat Hari Natal masuk neraka ya?, gw lihat di poster di kampus tadi”, saya sangat mafhum sekali ungkapan tersebut (CMIIW).
Setting waktu; sekitar 1999-2000, pada waktu-waktu itu memang bola-bola pluralisme perlahan mulai menggelindir di republik ini, dan di rentang waktu itulah ke-bhinnekaan dan unity in diversity bangsa ini sedang diuji, dan tepat di rentang waktu itulah saya merasakan kehadiran republik ini yang sesungguhnya, setting time nya boleh lah.
Filmmaking: hmm kayaknya sih film ini terkesan kejar tayang, dan terlihat beberapa bagian yang belum teredit secara sempurna.
Overall?? dapet 3.5 bintang lah dari 5 bintang, but still masih bukan film yang harus ditonton, but so so lahh…
Merantau dan Pencak Silat
Agustus 6, 2009
Dulu saya lebih memilih untuk belajar Karate, alasannya simpel dan gak repot, keren, kesan saya keren ketika melihat aktor-aktor laga beladiri tersebut memainkan jurus-jurusnya, plus ketika aktor yang bersangkutan sedikit mengeluarkan darah, atau sedikit teriris dibagian mukanya, ah kelihatannya keren banget, dan jurus-jurus Karate yang begitu esensialis, simpel dan terarah.
Lalu belajarlah saya Karate aliran inkai, sampai sabuk kuning dan setelah itu, perlahan saya memilih aktifitas lain sehubungan dengan perpindahan saya untuk kuliah di Ciputat, dan saya hanya sampai yellow belt saja.
Hey dulu sewaktu saya masih di pesantren ada tiga aliran beladiri diajarkan sebagai kegiatan ekskul, Perisai Putih, Walet Hitam dan Karate Inkai, namun tetep yang menjadi pilihan saya tetap Karate, alasannya disamping dalam beberapa hal saya sudah ter-internasional
sejak dini, juga menurut saya dulu gerakan-gerakan yang ada di pencak silat sama sekali tidak menarik dan tidak keren; gerakan yang mendayu-dayu, lembek, muter-muter dan tidak to the point dan di samping itu gerakan Barry Prima atau pun Midun sama sekali tidak membuat saya terkesan kalah jauh dari aksi JC van Damme atau pun dramatiknya gerakan Paddy dalam komik Ashura ciptaan Masatoshi Kawahara.
Okelah itu dulu, entah kenapa barusan tangan saya ngaceng-ngaceng sepanjang jalan membentuk cakar tanpa mempedulikan orang-orang yang melihat kegantengan saya sepanjang jalan, saya terus mengacengkan tangan saya membentuk cakar harimau; yeah a movie effect, semuanya dari berasal dari Merantau!
Merantau; hasrat saya menonton film garapan sutradara Inggris ini berawal dari sebuah tret di milis anak muda Jakarta yang cool itu, dan karena saya yakin mereka termasuk jajaran orang keren maka timbullah hasrat saya untuk menonton film itu, satu kunci yang membuat saya pengen: saya bisa bilang film ini adalah salah satu trendsetter film action Indonesia, atau pemicu kebangkitan film action Indonesia pasca era Barry Prima.
Sensasi yang paling kuat ketika saya menonton film ini adalah speed nya yang meluncur begitu cepat dari awal hingga akhir, menonton film ini serasa menaiki sebuah kereta cepat atau melihat meteor.
Alur yang meteorik ini digambarkan dalam aksi pencak silat cakar Harimau yang begitu padat dari awal hingga akhir film, mata kita akan dipuaskan dengan aksi-aksi itu, tapi aksi-aksi silat yang menawan itu kurang dibagi porsinya dengan percakapan dramatik dari para pemainnya, alur nya begitu lurus dan cepat.
Akting pemain-pemain senior di film ini, seperti Christine Hakim tak perlu lagi diragukan, tapi kemampuan meraka seakan kurang sreg dengan aksi aktor-aktor pendatang baru.
Tapi overall, kemampuan para aktor pendatang baru itu dan kisah yang begitu heroik, tertutupi dengan baik dengan aksi akrobatik gerakan silat Cakar Harimau itu, juga dengan darah tipis di pelipis aktris tokoh Astrid – yang diperankan oleh Sisca Jessica, yang membuat saya bertanya2 sepanjang film apakah dia adalah saudaranya Agnes Monica-
Dan saya bisa bilang film ini dapet 3.5 bintang, dan prediksi saya film ini akan menjadi trendsetter film action Indonesia berikutnya, dan saya berharpa banyak anak-anak lain di berbagai belahan bumi mulai mengaceng-ngacengkan tangannya membentuk cakar Harimau, dan mereka akan berkata: ini Pencak Silat dari Indonesia!
Ada bola di sarungku!
Juli 6, 2009
Saya belum menonton film Garuda di dadaku itu, film yang katanya menggugah rasa nasionalisme itu.Tapi sejenak saya melihat poster film itu membangkitkan kenangan lama saya di pesantren, sewaktu masih aktif bermain bola di lapangan alun-alun guluk-guluk sana.
Waktu itu impian lama saya untuk menjadi seperti Roberto Baggio atau David Beckham selalu saja terbentur dengan sebuah keharusan untuk ‘belajar yang baik dan duduk di bangku sekolah dan belajar kitab kuning’, ya orang tua selalu bilang main bola itu ndak hubungannya dengan masa depan atau akherat, dan teman-teman di sekitar saya juga bilang agar sebaiknya saya realistis saja bermimpi, jujur dulu saya sangat mengambil hati ungkapan orang-orang di sekitar saya itu, dan ketika saya bersembunyi saya ungkapkan kekesalan saya akan ‘mimpi terlarang’ itu!
Dulu saya memang tidak bisa bermain bola dengan baik, di kesebelasan lokal pun saya hanya ‘pemain bawang’ , saya di pasang karena hanya saya mempunyai posisi sedikit istimewa, dan mungkin penghibur, tapi jiwa raga saya waktu itu memang penuh bola – ini terjadi tepat setelah demam piala dunia ‘94 di Amerika Serikat -.
Di pesantren, banyak sekali talenta-talenta berbakat yang menyembunyikan bakat nya di balik lipatan kain sarung yang melilit tubuh mereka, tapi entah mengapa talenta mereka menguap entah ke mana ketika mereka beranjak dewasa akhirnya mereka menganggap mimpi lama mereka hanya sekedar hobi saja – hobi yang untuk hobi -.
Dan akhirnya ada sebuah tanya; sarungan ndak boleh maen bola? sarungan ndak boleh jadi pemain bola? sarungan ndak boleh maen gitar? ah mungkin itu dulu, saya harap sekarang sudah beda seiring dengan ditekannya tombol sirine peresmian Jembatan Madura, semoga sedikit ada pergeseran dan gesekan atau bahkan tendangan!, ini bukan undangan, ini bukan himbauan, ini adalah paksaan untuk masa depan yang lebih baik!
Sekedar Update
Juni 23, 2009
Ini sekedar update; sebuah kerinduan untuk selalu merekam keseharian yang melaju cepat di tengah padat merayap jalanan Jakarta.
Seolah tak percaya ketika terjebak macet- membunuh waktu, mendumel, memaki, mengesal dan berkeringat- kita hidup di era yang digital [?]
Sekedar update; selamat siang dan semoga berkenan.
My short memory circuit
Juni 6, 2009
Walking without purpose
Withdrawing the IDR 150 thou instead of IDR 50 thou
Missed to withdraw back my ATM card so it lost…
Missed to pay for a bottle of tea…
Missed to pay the Angkot driver so he scolded to me this morning…
Missed to call you back…
Missed to text you back…
Missed to write you back…
Missed to email you back…
Missed to thank You…
Missed to love you
miss Universe
Miss YOU!

Hari sabtu (16/05/2009) kemarin atas undangan sahabat-sahabat dekat saya, saya berkesempatan mengunjungi sebuah peluncuran buku yang saya tunggu-tunggu.
Saya begitu gregetan menunggu kehadiran buku ini, dan gemes untuk melihat reaksi mereka orang-orang radikal yang barbar itu, dan akhirnya buku itu pun diluncurkan kemarin dengan judul ILUSI NEGARA ISLAM, sebenarnya jujur saya mengharapkan buku ini hadir dengan judul greng seperti yang pernah saya dengar sebelumnya: BAHAYA LATEN NEGARA ISLAM.
Ya kenapa tidak? hampir sebagian besar buku hasil penelitian kerjasama antara The Wahid Institute, Gerakan Bhinneka Tunggal Ika, dan Maarif Institute ini menyingkap asal muasal dan gerak denyut kelompok Islam garis keras yang berasal dari gerakan Wahabi yang berasal dari sebuah daerah di Saudi Arabia, penetrasinya ke dalam dunia politik praksis yang mengusung negara Islam dan Khilafah Islamiyah yang sebenarnya sama sekali tidak mempunyai landasan teologis dalam Islam, metamorfosa dan perkawinan gerakan ini dengan berbagai gerakan-gerakan Islamis seperti Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, serta infiltrasi mereka ke sebuah partai politik di Indonesia, siapa lagi kalau bukan PKS! yang jelas, sebagaimana diakui sendiri oleh Anis Matta salah satu pendirinya terinspirasi dari gerakan Ikhwanul Musliminnya Hasan Al Banna, yang mana gerakan tersebut merupakan organisasi terlarang di negara asalnya sendiri.
Again, buku ini menyingkap beberapa fakta unik yang belum saya ketahui sebelumnya di antara lain: mengungkap benang merah pertalian gerakan Padri yang dikomandoi oleh Tuanku Imam Bonjol dengan gerakan Wahabisme di Saudi Arabia, dan tragedi pendudukan berdarah di Mekkah yang sangat jarang diekspos di berbagai media.
However buku ini adalah pemicu buat kita agar lebih aware terhadap gerakan Islam garis keras, sisi positif dari buku ini selain menyingkap asal muasal gerakan Islam garis keras, buku ini juga menawarkan sebuah alternatif gerakan Islam senyum yang ramah di muka bumi, rahmatan lil alamin, saya yakin buku ini akan menjadi pemicu hadirnya wajah Islam yang lebih ramah. Oya buku ini duluncurkan dengan videonya loh.
Mau tahu isinya lebih lanjut? baca sendiri ya, bukunya tebel lohh. BISA DI DOWNLOAD DI SINI
[Enough about the book and its video, however I ate a lot of food in the hotel
, and met some old friends including my uncle, ho ho ho, it's absolutely a coincident to meet them actually, and I feel so blessed to be among Indonesian begawan: HE.KH.Abdurrahman Wahid, Gus Mus and Buya Syafii Maa'rif, I'm so grateful, I really feel the positive energy from them]
*foto diambil dari Fesbuknya temen.
Heavenly Blush
Mei 17, 2009
Lemuut, memang untuk diemut, dikulum dan dirasakan; ketika partikel-partikel pink berpadu dengan lemut-lemut putih menyesap ke dalam serat-serat buah-buah daging ayam yang ternyata adalah buah lychee berwarna oranye tawar.
Dan itu ternyata adalah Yogurt, sejenis dairy product, saya kira rasanya selalu masam, membuat mata selalu terpicing-picing, tapi sebuah tawaran menggoda dari teman-teman memberikan saya kesempatan untuk mencoba merasakan sensasi itu, dan akhirnya saya pun mencoba. Benar itu Yogurt, benar rasanya beda, sensasi sedikit masam dipadu dengan petualangan menikmati serat buah dikawal dengan partikel putih-pink menghadirkan petualangan yang membuat saya lupa arah balik ke Ciputat, and it’s called Heavenly Blush!
[ha ha ha I know that I'm little bit lebay, but truth be told it's my first time tasting Yogurt! Thanks guys!]
Menonton Filem
Mei 15, 2009
Jujur akhir-akhir ini saya banyak sekali melahap filem-filem, nikmat saja rasanya! dan sensanya serasa ngefly gitu habis nonton, dalam seminggu bisa jadi 3 film saya tonton sekaligus.
Ada sensasi aneh setiap kali masuk ke ruangan bioskop entah itu 21 atau Blitzmegaplex, sebuah sensasi bebas! Dan saya bagaikan burung yang lepas memasuki ruangan teater. Eh iya saya sudah berhasil menghilangkan fobia aneh saya yang dulunya selalu berkata: it’s pity if you come to the cinema alone!, yeah indeed memang jalan bersama pasangan atau teman-teman banyak lebih enak, however nonton bioskop sendirian it’s not a crime man!
Jujur dulu sewaktu masih kecil (apanya yang kecil?} saya susah sekali nonton bioskop, yahh berhadapan dengan birokrasi budaya tradisional pesantren yang sudah menstigma bioskop adalah tempat buat anak muda yang berpasangan untuk grepek-grepek dan yang sejenisnya, apa mungkin di era sembilan puluhan itu filmnya kebanyakan film grepek2? ah entahlah yang jelas setahu saya billboard gedung bioskop di kota Sumenep di tahun-tahun itu selalu bertuliskan: Gairah Malam, Tak Tahan Banting, Susuk Nyi Roro Kidul, Gairah Terlarang dan lain sebagainya. Apa iya ini alasan para masyayikh dan kiyai melabeli bioskop seperti itu?
Saya ndak tahu, yang jelas label yang mereka berikan pasti untuk kemashlahatan ummat untuk saat itu, meski saat itu sempat membuat saya stres berat gara-gara tak diberi izin oleh Aba untuk nonton bioskop. Baidewei apakah stigma itu sampai sekarang masih berlaku? ah entahlah, yang jelas dateng ke bioskop itu nggak dosa kok! asal kita tahu grip-nya, memang sih saya witnessing beberapa yang grepek-grepek dan yang sejenisnya, tapi bagaimanapun juga itu tetap tergantung kualitas filem yang ditonton!!!, kalau memang filemnya berkualitas saya yakin meski filem nasional pasti penontonnya juga serius nontonnya.
Terus bagaimana ya reaksi orang-orang di pesantren menyambut filem-filem yang bertemakan Islam dan pesantren yang sempat muncul belakangan ini? Katakanlah Ayat-ayat Cinta, 3 Doa 3 Cinta (Nyesel saya nonto filem ini! it’s suck!), Perempuan Berkalung Sorban, dan yang mau rilis Ketika Cinta Bertasbih, btw gimana ya reaksi mereka?
However, habis nonton filem itu kepala saya serasa dimasuki sesuatu yang aneh, susah menggambarkannya saya, kurang lebih seperti habis buang hajat lalu minum satu botol teh botol, waaah which is….I can’t describe it man!!!
[yuuhuu I've just watched Angels and Demons @ Citos, it's so cool 3.5 stars from 5, it took 138 mins, but I had no food with me I was starving and ALONE! meanwhile Plaza semanggi is so far from ciputat and they are there]