Tak Perlulah Dimengerti, Jika Dimengerti Saya Bisa Ketahuan
Oktober 13, 2008
Di suatu malam, malam yang letih, sebuah eksistensi yang letih termangu, tenggorokannya serasa tersendat cairan yang ia tak mengerti, ada satu, dua, tiga kata yang berhasrat menyeruak keluar. Entah eksistensi tak mengerti mengapa kata-kata tertahan di rongga tenggorokannya. Ia berdoa, berharap semesta berkonspirasi membeberkan kata-kata itu pada eksistensi lain, di sana, di sebuah tempat berukuran persegi. Eksistensi yang memberinya kesejukan, eksistensi yang membuatnya de ja vu, eksistensi yang membuatnya ekstase, eksistensi yang membuatnya hidup.
Eksistensi yang letih itu bertanya pada angin, bumi dan udara, dan Pencipta seluruh eksistensi di semesta: tugasnya-kah menyampaikan tiga kata pusaka itu pada eksistensi di ruangan persegi itu? . Demi Tuhan, lebih mudah bersembahyang lima waktu dalam sehari, bernyanyi dan berzikir tentang semesta daripada mengucapkan tiga kata pusaka itu pada eksistensi dalam ruangan persegi itu. Inikah saatnya bagi eksistensi itu memutuskan? untuk memecahkan kebuntuan yang telah lama menggerogoti dirinya? malam makin larut, semoga eksistensi di dalam ruangan itu tidur nyenyak dan bermimpi indah, malam ini. Amin.
Oktober 14, 2008 at 11:36 am
hmmm… hrs baca berkali2 nih biar bener2 ngerti
btw .. itu foto di headernya seksi banget ya
Oktober 14, 2008 at 11:36 am
hmmm… hrs baca berkali2 nih biar bener2 ngerti
btw .. itu foto di headernya seksi banget ya
Oktober 15, 2008 at 8:29 am
ya.. eksistensinya punya nama kan pastinya?
Oktober 15, 2008 at 1:51 pm
chic, pertanyaan yang menukik tajam…
Oktober 15, 2008 at 1:52 pm
@elys welt, nggak usah mas, nggak usah dimengerti, seksi? that’s what I am