Suatu malam di akhir pekan, kartu-kartu diaduk, dan permainan pun di mulai. Cemas di bagi rata kepada setiap pemain, dan eksistensi bernyanyi di setiap truf yang berada di dalam genggaman tangan. Dan insting terus berkumandang seraya mengingatkan diriku agar tak lengah sedikitpun dari permainan.

Aku tahu! jika aku mesti mendapatkan peran dalam kartu ini, aku harus menjadi joker, kartu yang tak ada pasangannya, kartu yang berbeda dengan kartu yang lainnya, dipakai sekali-kali hanya dalam permainan tertentu dan selebihnya terasing dalam sepi yang mecekam.

Waz! ayo mainkan kartunya!, ucapan teman saya itu menyentil lamunan saya, dan kartupun saya lemparkan dengan segenap gelisah saya, tentang “lembaran-lembaran yang membosankan”, tentang seorang blogger, tentang angka-angka, tentang hujan yang tak pernah membuat cucian kering, tentang “seribu panah arjuna”dan tentang…ah saya cuma saya cuma seorang joker di antara para raja dan ratu, ya joker yang dibutuhkan dan joker yang di lempar ke dalam keterasingan.

Lalu kalau kamu mesti menjadi kartu kamu mau jadi apa?

5 Responses to “Suatu Malam di Akhir Pekan”

  1. Hedi Says:

    mana bisa kita memilih, tergantung yang ngocok :D


  2. Saya ndak ngerti main kartu… :mrgreen:

  3. edy Says:

    ayo main truf!

  4. franya Says:

    qaduh mas disini udah nggak bisa akhir pekanan.. kadang masuk deh.. and akhir pekan disini harinya jumat sabtu bukan sabtu minggu.. capek deh..

  5. hanny Says:

    jadi kartu 8 hati aja. orang biasa, tapi cukup bahagia :)


Leave a Reply